Catatan dari Banjarmasin

8 Oktober 2012 Ba’da Isya’. Baru saja keluar dari Bandara Syamsudin Noor kota Banjarmasin dengan sambutan kumandang adzan Isya’. Ini kali pertama menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan, dan itu tepat di kaki pulau Kalimantan, yakni Kalimantan Selatan kota Banjarmasin.

Tidak ada gambaran sama sekali saat berada di kota ini. Memang sengaja tidak mencari informasi dulu di internet, mencoba bereksplorasi sendiri.

Banjarmasin, kota seribu sungai. Bisa dibayangkan kalau kemana pun pergi, pasti menemukan sungai entah itu di ujung, di depan, di belakang, di samping atau di sebelah. Kota Banjarmasin termasuk salah satu kota yang memiliki area yang lebih kecil dari Jakarta Barat kira-kira 98,46 km2.

Tekstur tanah di kota ini hampir seperti berpasir, hal ini dikarenakan kota Banjarmasin dekat dengan laut. Pohon yang sering ditemui disini adalah pohon dengan daun berbentuk bulan sabit, Pohon Akasia. Pada pagi hari terdapat kabut asap yang cukup tebal, hal ini dimungkinkan karena terbakarnya lahan kosong yang banyak ditumbuhi pohon dan semak kemudian turun di pagi hari terbawa angin.

Gambar 1 Tanah Berpasir dan Daun Pohon Akasia

Gambar 2 Lahan Yang Terbakar

Penduduk disini memiliki logat yang cepat dengan bahasa yang unik… beberapa bahasa hampir sama dengan bahasa jawa. Misalnya untuk berhitung, asa (satu), dua (dua), talu (tiga), ampat (empat), lima (lima), anam (enam), pitu (tujuh), walu (delapan), sanga (Sembilan), sapuluh (sepuluh), sawalas (sebelas), pitung walas (tujuh belas), salawi (dua puluh lima), dll. Rumah adat yang ada disini adalah Rumah Banjar.

Gambar 3 Rumah Banjar

Makanan khas disini salah satunya adalah Soto Banjar, tempat untuk menemukan soto ini lumayan jauh dari penginapan… tempatnya pun dibawah jembatan dan tepat berada disamping sungai Barito. Sotonya sangat enak dengan porsi besar… apalagi saat itu sedang di traktir, nilainya makin plus😀 hehehehe…

Gambar 4 Soto Banjar

Gambar 5 Warung Soto Banjar di Tepi Sungai Barito

Gambar 6 Sungai Barito

Selain pemandangan yang langsung pada sungai yang menunjukkan ciri khas kota Banjarmasin, di tempat tersebut terdapat hiburan live traditional music yang bernama “Pating”.

Gambar 7 Live Traditional Music “Pating”

Disamping tempat makan ini, terdapat penyewaan “Kelotok” atau alat transportasi perahu yang sering digunakan disini.

Gambar 8 Perahu Kelotok

Makanan khas lainnya adalah Ikan Saluwang goreng. Bentuknya kecil dan hampir seperti ikan mujaer kecil-kecil yang digoreng.


Gambar 9 Ikan Saluang Goreng

Jangan kaget kalau makan nasi disini, akan selalu menemui nasi pera’ atau nasi yang berbutir-butir (tidak pulen), karena memang penduduk setempat lebih suka nasi pera’. Dan satu lagi, sambal disini agak berbeda… awalnya rasanya manis, tapi setelah dikunyah… pedes kok😀


Gambar 10 Nasi Pera’ dan Sambal Manis

Salah satu kawasan oleh-oleh yang paling ramai dicari disini adalah Martapura, dimana yang paling khas adalah mutiara-mutiara. Martapura adalah salah satu kabupaten dari kota Banjarmasin.

Gambar 11 Tempat Wisata Oleh-oleh Banjarmasin di Martapura

Gambar 12 Mutiara Martapura

Daerah Martapura merupakan daerah santri, salah satu obyek wisatanya adalah Masjid Agung Al-Kharomah.


Gambar 13 Masjid Agung Al-Kharomah Martapura

Siang hari sekitar ba’da Dhuhur ramai santri-santri yang berlalulalang disana.

Gambar 14 Santri-santri Masjid Agung Al-Kharomah Martapura

Gambar 15 Santri Naik Sepeda

Gambar 16 Santri-santri Selepas Ba’da Dhuhur

Pertama kali masuk masjid ini, saya cukup terkejut. Karena harus melepaskan alas kaki ketika menginjak teras masjid.

Gambar 17 Teras Masjid Suci

Gambar 18 Tanpa Alas Kaki

Didalam masjid, terdapat area yang di istimewakan untuk permohonan-permohonan khusus. Area ini dikelilingi oleh 4 tiang, konon katanya tiang ini peninggalan dari sunan yang pernah singgah disana. Pada ke empat tiang ini terdapat untaian bunga yang diikat. Bunga-bunga ini adalah bentuk dari permohonan dari pengunjung masjid yang hendak memanjatkan permohonan khusunya. Setiap mengikatkan bunga pada salah satu tiang, pengunjung biasanya memeluk tiang tersebut dan memanjatkan doa. Setelah ke empat tiang diperlakukan sama seperti sebelumnya, pengunjung dapat duduk di tengah area, duduk dan memanjatkan doa.

Gambar 19 Area Khusus di Dalam Masjid

Gambar 20 Bunga pada Tiang Area

Gambar 21 Pengunjung Memeluk Tiang

Gambar 22 Duduk di Tengah Area dan Memanjatkan Doa

Pada masjid ini antara shaf wanita dengan laki-laki terpisah.

Gambar 23 Dua Bangunan Memisahkan Shaf Lelaki dan Wanita

Tempat wudhu di masjid ini juga unik, tiang di depan kran tersebut digunakan untuk duduk ketika berwudhu.

Gambar 24 Tempat Wudhu

Mukena wanita yang sering ditemui memiliki model yang terkesan unik, pada bagian atas mukena terdapat sebagian tangan yang bertujuan agar telapak tangan dapat langsung bersentuhan dengan sajadah yang merupakan salah satu rukun sholat.

Gambar 25 Mukena

2 thoughts on “Catatan dari Banjarmasin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s