Topi Pesulap (5 End)

Satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu

“Ibu-ibu dan Bapak-bapak,” mereka berteriak, “kami melayang-layang di angkasa!” namun tak seorangpun di antara mereka yang peduli.

“Huh, gerombolan pembuat onar!” kata mereka. Dan mereka terus berceloteh: tolong ambilkan menteganya, ya? Seberapa banyak saham kita naik hari ini? Berapa harga tomat?

Ketika ibu Sophie tiba di rumah sore itu, Sophie masih dalam keadaan terheran-heran. Kaleng yang menyimpan surat-surat dari filosof misterius itu tersembunyi aman di sarang. Sophie berusaha untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya namun dia hanya bisa duduk sambil memikirkan apa yang telah dibacanya. Baca lebih lanjut

Topi Pesulap (4)

Satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu

Apa yang akan kamu pikirkan? Tidak apa, itu tidak penting. Tapi pernahkah terlintas dalam benakmu tentang kenyataan apakah sesungguhnya kamu sendirilah si orang Mars itu?

Memang sangat mustahil bahwa kamu akan pernah bertemu dengan seorang makhluk dari planet lain. Kita bahkan tidak tahu apakah ada kehidupan di planet-planet lain. Tapi kamu mungkin akan menemukan dirimu sendiri pada suatu hari nanti. Kamu mungkin akan berhenti dengan tiba-tiba dan memandang dirimu sendiri dengan suatu kesadaran yang sama sekali baru.

Aku seorang makhluk luar bisa, begitu katamu. Aku seorang makhluk misterius.

Kamu merasa seakan-akan kamu tengah terbangun dari tidur akibat disihir. Siapakah aku? Kamu bertanya. Kamu tahu kamu sedang berkeliaran diatas sebuah planet di alam raya. Tapi apakah alam raya itu? Baca lebih lanjut

Topi Pesulap (3)

Satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu

Sophie benar-benar kecapaian. Masih menyimak? Dia bahkan tidak mampu mengingat kapan dia berhasil mencuri waktu untuk bernafas sementara dia asyik membaca.

Siapa yang telah membawa surat ini? Tidak mungkin orang yang sama yang telah mengirim kartu ulang tahun kepada Hilde Moller Knag sebab kartu itu dibubuhi perangko dan cap pos. Amplop coklat itu telah dibawa sendiri ke kotak surat seperti dua amplop putih sebelumnya.

Sophie melihat arlojinya. Kini jam tiga kurang seperempat. Ibunya belum akan pulang kantor dalam waktu dua jam ini.

Sophie merangkak keluar menuju taman lagi dan lari ke kotak surat. Barangkali masih ada surat lain. Baca lebih lanjut

Topi Pesulap (2)

Satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu

Sophie yang baik,

Banyak orang mempunyai hobi. Sebagian orang suka mengoleksi koin kuno atau perangko luar negri, sebagian suka merajut, yang lain mengisi hampir seluruh waktu luangnya dengan olah raga tertentu.

Banyak orang senang membaca. Namun selera membaca itu berbeda-beda. Sebagian orang hanya membaca koran atau komik, sebagian senang membaca novel, sementara yang lain lebih menyukai buku tentang astronomi, margasatwa, atau penemuan-penemuan teknologi.

Jika kebetulan aku tertarik pada kuda atau batu mulai, aku tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukai kesenanganku. Jika aku suna menonton semua program oleh raga di TV, aku harus menyadari bahwa orang lain mungkin menganggap olah raga itu membosankan.

Tidak adakah sesuatu yang memikat hati kita semua? Tidak adakah sesuatu yang menyangkut kepentingan semua orang – tidak soal siapa mereka tau dimana mereka tinggal di dunia ini? Ya, Sophie sayang, memang ada masalah-masalah yang jelas akan menarik minat semua orang, dan itulah masalah-masalah yang dibahas dalam pelajaran ini. Apakah hal yang terpenting dalam kehidupan? Jika kita bertanya kepada seseorang yang sedang kelaparan, jawabannya adalah makanan. Jika bertanya kepada orang yang sedang kedinginan, jawabannya adalah kehangatan. Jika kita ajukan pertanyaan yang sama pada orang yang perasa kesepian dan terasing, jawabannya barangkali adalah ditemani orang lain. Baca lebih lanjut

Topi Pesulap

Satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu

Sophie yakin dia akan mendapat kabar dari penulis surat tanpa nama itu lagi. Dia memutuskan untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang surat itu untuk saat ini.

Di sekolah dia sulit memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan guru. Tampaknya mereka hanya membicarakan tentang hal yang tidak penting. Mengapa mereka tidak membicarakan tentang apakah manusia itu? – atau tentang apakah dunia itu dan bagaimana ia menjadi ada?

Untuk pertama kalinya dia mulai merasa bahwa di sekolah dan juga di tempat-tempat lain orang-orang hanya mengurusi hal-hal remeh. Padahal sesungguhnya ada masalah-masalah besar yang harus dipecahkan.

Apakah ada seseorang yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini? Sophie merasa bahwa memikirkankan tentang hal tersebut jauh lebih penting daripada menghafal perubahan bentuk kata kerja tak beraturan. Baca lebih lanjut

Taman Firdaus (4 End)

Pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan

Pertanyaan-pertanyaan yang sungguh menjengkelkan! Dan, ngomong-ngomong, dari mana datanya surat-surat itu? Itu juga sama misteriusnya, nyaris.

Siapa yang telah menyentak Sophie keluar dari keberadaannya sehari-hari dan dengan tiba-tiba membawanya berhadapan dengan teka-teki besar tentang alam raya?

Untuk ketiga kalinya Sophie memeriksa kotak surat. Pak Pos baru saja mengantar kiriman hari itu. Sophie mengaduk setumpukan surat sampah, terbitan berkala, dan dua surat untuk ibunya. Juga ada sebuah kartu pos bergambar pantai tropis. Dia membalik kartu itu. Di situ tertempel sebuah perangko Norwegia dan diberi cap pos “Batalyon PBB.” Mungkinkah itu dari Ayah? Tapi bukankah dia berada di suatu tempat yang sama sekali lain? Itu juga bukan tulisan tangannya.

Sophie merasakan detak jantungnya sedikit bertambah cepat ketika dia melihat kepada siapa kartu pos itu dialamatkan: “Hilde Moller Knag, d/a Sophie Amundsend, 3 Clover Close…” Sisa alamat itu benar adanya. Kartu itu berbunyi:

Hilde sayang, selamat ulang tahun  ke-15! Karena aku yakin kamu akan mengerti, aku ingin memberimu sebuah hadiah yang dapat membantumu berkembang. Maafkan aku telah mengirimkan kartu ini ke alamat Sophie. Itu adalah cara yang paling mudah. Salam sayang dari Ayah. Baca lebih lanjut

Taman Firdaus (3)

Pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan

Aku tidak tahu, pikir Sophie. Tentu tidak ada orang yang benar-benar tahu. Namun bagaimanapun juga – Sophie menganggap itu sebuah pertanyaan yang wajar. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasa tidak pantas hidup di dunia tanpa setidak-tidaknya mempertanyakan dari mana ia berasal.

Surat-surat misterius itu telah membuat kepala Sophie pusing. Dia memutuskan untuk pergi menyendiri di sarangnya.

Sarang itu adalah tempat persembunyian Sophie yang paling rahasia. Ke situlah dia pergi jika dia merasa sangat marah, sangat sedih, atau sangat bahagia. Hari ini dia hanya bingung.

Rumah merah itu dikelilingi oleh sebuah taman luas dengan banyak petak bunga, semak-semak, pohon berbagai jenis buah, halaman berumput dengan sebuah peluncur dan pavilion kecil yang dibangun kakek ketika nenek kehilangan anak pertama mereka beberapa minggu setelah anak tersebut dilahirkan. Pada pusaranya tertulis kata-kata: “Marie kecil mendatangi kami, menyalami kami, dan pergi lagi.” Baca lebih lanjut