Taman Firdaus (2)

Pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan

Dia tidak tahu. Dia adalah Sophie Amundsend, tentu saja, tapi siapakah Sophie itu? Dia benar-benar tidak mengerti (belum).

Bagaimana seandainya dia telah diberi nama lain? Anne Knutsen, misalnya. Apakah dia lalu menjadi orang lain?

Tiba-tida dia ingat bahwa ayahnya semula ingin dia dinamai Lilemor. Sophie berusaha untuk membayangkan dirinya bersalaman dan memperkenalkan dirinya sebagai Lillemor Amundsend, namun semua itu tampaknya tidak benar. Tetap saja itu adalah orang lain yang memperkenalkan dirinya.

Dia melompat dan pergi ke kamar mandi dengan surat aneh di tangannya. Dia berdiri di depan cermin dan menatap matanya sendiri.

“Aku Sophie Amundsend,” katanya.

Gadis di dalam cermin itu tidak beraksi sama sekali. Apapun yang dilakukan Sophie, gadis lain itu melakukannya dengan cara yang persis sama. Sophie berusaha untuk memukul bayangannya dengan gerakan kilat namun gadis itu pun bergerak sama cepatnya.

“Siapakah kamu?” Sophie bertanya.

Dia tetap tidak menerima tanggapan, tapi merasa sedikit bingung apakah dia atau bayangannya yang mengajukan pertanyaan itu.

Sophie menekan jari telunjuknya ke hidung di cermin itu dan berkata, “Kamu adalah aku.”

Karena dia tidak mendapatkan jawaban, dia membalik kalimat itu dan berkata, “Aku adalah kamu.”

Sophie Amundsend sering merasa tak puas dengan penampilannya. Orang sering bilang dia memiliki sepasang mata indah berbentuk buah almond, namun itu barangkali hanya diucpkan orang-orang sebab hidungnya terlalu kecil dan mulutnya agak terlalu besar. Dan telinganya terlalu berdekatan dengan matanya. Yang paling buruk dari semua itu adalah rambutnya yang lurus, yang tidak mungkin bisa diapa-apakan. Kadang-kadang ayahnya akan membelai rambutnya dan menyebutnya “gadis dengan rambut jerami.” Bagi ayahnya itu tidak menjadi soal, sebab bukan dia yang dijatuhi kutukan untuk hidup dengan rambut lurus berwarna gelap. Krim rambut maupun styling gel sama sekali tidak berpengaruh pada rambut Sophie. Kandang-kadang dia menganggap dirinya begitu jelek sehingga dia bertanya-tanya apakah dia terlahir cacat. Namun apakah yang sesungguhnya menentukan penampilan kita?

Bukankah aneh bahwa dia tidak mengenali siapa dirinya? Dan bukanlah tidak masuk akal bahwa dia tidak pernah diizinkan untuk ikut menentukan bagaimana penampilannya? Dia hanya sekedar “ditimpa” penampilan seperti itu. Dia memang dapat memilih kawan-kawannya sendiri, tapi jelas dia tidak dapat memilih dirinya sendiri. Dia bahkan tidak memilih menjadi seorang manusia.

Apakah manusia itu?

Sophie kembali menatap gadis di cermin itu.

“Ah, sebaiknya aku ke atas dan mengerjakan PR biologiku,” katanya, nyaris seperti meminta maaf. Begitu sampai di ruang tengah, dia berpikir, Tidak, lebih baik aku perki ke taman.

“Kitty, Kitty, Kitty!” Sophie mengejar-ngejar kucing itu hingga ke tangga serambi dan menutup pintu depan.

 

Ketika dia berdiri di luar, diatas jalan berkerikil dengan surat misterius di tangannya, perasaan yang sangat aneh menyerangnya. Dia merasa seperti sebuah boneka yang tiba-tiba dihidupkan oleh sapuan sebatang tongkat sihir.

Bunkankah ajaib bisa berada di dunia saat ini, berkelana ke sana kemari dalam suatu petualangan yang mencengangkan!

Shereka melompat ringan melintasi kerikil dan menyelinap ke serumpun semak-semak kismis merah. Seorang kucing hidup, yang penuh energy dari kumis putihnya hingga ekornya yang bergerak-gerak di ujung badannya yang licin. Ia juga berada di sini di taman ini, namun hampir tidak menyadarinya dengan cara seperti Sophie memikirkannya.

Ketika Sophie mulai memikirkan tentang hidup, dia mulai menyadari bahwa dia tidak akan hidup selamanya. Aku berada di dunia sekarang, pikirnya, tapi suatu hari aku akan pergi.

Adakah kehidupan sesudah kematian? Ini adalah pertanyaan lain yang sama sekali tidak pernah dipikirkan oleh si kucing.

Belum lama nenek Sophie meninggal. Selama lebih dari enam bulan Sophie merindukannya dari hari ke hari. Sungguh tidak adil bahwa kehidupan harus berakhir!

Sophie berdiri di atas jalan berkerikil, berpikir. Dia berusaha untuk berpikir ekstra keras mengenai hidup agar dia dapat melupakan bahwa dia tidak akan hidup selamanya. Tapi itu mustahil. Begitu dia berkonsentrasi pada kehidupannya sekarang, pikiran tentang kematian pun memasuki benaknya. Hal yang sama terjadi sebaliknya, hanya dengan membangkitkan perasaan mendalam bahwa suatu hari orang pasti mati maka dia dapat menghargai betapa senangnya dia bisa hidup. Ini seperti dua sisi mata uang yang berulang kali dibalik-baliknya. Dan semakin besar dan semakin jelas satu sisi, semakin besar dan semakin jelas pula sisi lainnya.

Kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu nantinya harus mati, pikirknya. Namun sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkannya hidup itu.

Sophie ingat nenek mengatakan sesuatu semacam itu pada hari ketika dokter menyatakan dirinya sakit. “Baru kali inilah aku menyadari betapa kayanya kehidupan ini,” katanya.

Sungguh tragis bahwa kebanyakan orang harus jatuh sakit dulu sebelum mereka memahami betapa berharganya hidup itu. Atau, kalau tidak, mereka harus menemukan dulu sebuah surat misterius di dalam kotak surat!

Barangkali dia harus memeriksa kalau-kalau ada lagi surat yang datang. Sophie bergegas ke pintu gerbang dan melihat ke dalam kotak surat hijau. Dia terperangjat ketika mendapati bahwa disitu terdapat sebuah amplop putih lain, persis seperti yang pertama. Tapi kotak surat itu jelas-jelas sudah kosong ketika dia mengambil amplop pertama! Amplop ini bertuliskan namanya pula. Dia menyobeknya hingga terbuka dan merah selembar catatan yang ukurannya sebesar yang pertama.

Dari mana datangnya dunia? Dikatakan disitu.

Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s