Taman Firdaus (3)

Pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan

Aku tidak tahu, pikir Sophie. Tentu tidak ada orang yang benar-benar tahu. Namun bagaimanapun juga – Sophie menganggap itu sebuah pertanyaan yang wajar. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasa tidak pantas hidup di dunia tanpa setidak-tidaknya mempertanyakan dari mana ia berasal.

Surat-surat misterius itu telah membuat kepala Sophie pusing. Dia memutuskan untuk pergi menyendiri di sarangnya.

Sarang itu adalah tempat persembunyian Sophie yang paling rahasia. Ke situlah dia pergi jika dia merasa sangat marah, sangat sedih, atau sangat bahagia. Hari ini dia hanya bingung.

Rumah merah itu dikelilingi oleh sebuah taman luas dengan banyak petak bunga, semak-semak, pohon berbagai jenis buah, halaman berumput dengan sebuah peluncur dan pavilion kecil yang dibangun kakek ketika nenek kehilangan anak pertama mereka beberapa minggu setelah anak tersebut dilahirkan. Pada pusaranya tertulis kata-kata: “Marie kecil mendatangi kami, menyalami kami, dan pergi lagi.”

Jauh disebuah sudut taman di balik semak-semak buah frambus ada belukar lebat dimana bunga atau buah beri tidak mau tumbuh. Sesungguhnya, itu adalah sebuah pagar tanaman yang menjadi batas dengan hutan, tapi karena tidak ada orang yang memangkasnya selama dua puluh tahun terakhir ini maka ia berubah menjadi semak yang kacau dan tak tertembus. Nenek sering berkata bahwa pagar itu menyulitkan kawanan rubah untuk mencuri ayam pada masa perang, ketika ayam-ayam itu dilepas leluasa di dalam taman.

Bagi semua orang lain kecuali Sophie, pagar tanaman kuno itu sama tak bergunanya dengan kandang kelinci di ujung lain taman itu. Namun itu hanya karena mereka belum menemukan rahasia Sophie.

Sophie telah menemukan lubang kecil di pagar itu sejak dia bisa mengingat. Ketika merayap kesana dia memasuki sebuah rongga di antara semak-semak. Rongga itu seperti sebuah rumah mungil. Dia tahu tak seorang pun dapat menemukannya disana.

Dengan menggenggam kedua amplop di tangan, Sophie berlari melintasi taman, merangkak dengan kedua kaki dan tangannya, dan membuka jalan menembus pagar tanaman itu. Sarang itu tingginya hampir sama dengan tinggi tubuhnya saat berdiri tegak, tapi hari ini dia duduk di atas serumpun akar yang bertonjolan. Dari sana dia dapat melihat keluar melalui lubang pengintip kecil di sela-sela ranting dan dedaunan. Meski tak satu lubang pun yang lebih besar dari sebuah koin kecil, dia dapat menyapukan pandangannya ke seluruh taman. Ketika masih kecil dia suka berpikir sungguh menyenangkan memperhatikan ibu dan ayahnya mencari-carinya di antara pepohonan di situ.

Sophie selalu menganggap taman itu sudah merupakan dunia tersendiri. Setiap kali dia mendengar tentang Taman Firdaus yang dicerikan dalam Bibel, dia seperti diingatkan untuk duduk disini di dalam sarangnya, mengawasi surge kecilnya sendiri.

Dari mana datangnya dunia?

Dia tidak mempunyai gagasan sekilas pun. Sophie tahu bahwa dunia itu hanyalah sebuah planet kecil di angkasana. Namun darimana asalnya angkasa?

Mungkin saja angkasa itu selalu ada, karena itu dia tidak perlu mencari tahu dari mana ia berasal. Tapi mungkinkah sesuatu itu selalu ada? Jauh di lubuk hatinya dia memprotes gagasan tersebut. Tentunya segala sesuatu yang ada itu ada permulaanya? Jadi angkasa pasti telah diciptakan dari sesuatu yang lain.

Tapi jika angkasa berasal dari sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu pasti juga berasal dari sesuatu yang lain pula. Sophie merasa dia hanya menyeret-nyeret permasalahan. Pada satu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan. Namun apakah itu mungkin? Bukankah itu sama mustahilknya dengan gagasan bahwa dunia selalu ada?

Mereka telah belajar di sekolah bahwa Tuhan menciptakan dunia. Sophie berusaha untuk menghibur dirinya dengan pemikiran bahwa ini barangkali pemecahan terbaik untuk seluruh masalah itu. Tapi dia lalu mulai berpikir lagi. Dia dapat menerima bahwa Tuhan telah menciptakan angkasa, tapi bagaimana dengan Tuhan sendiri? Apakah dia menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan? Lagi-lagi ada sesuatu jauh di lubuk hatinya yang memprotes. Meskipun Tuhan dapat menciptakan segala macam benda, tidak mungkin dia dapat menciptakan dirinya sendiri sebelum dia mempunyai “diri”. Maka hanya tinggal satu kemungkinan: Tuhan selalu ada. Tapi dia menolak kemungkinan itu! Segala sesuatu yang ada harus ada permulaanya.

Oh, persetan!

Dia membuka kedua amplop itu lagi.

Siapakah kamu?

Dari mana datangnya dunia?

Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s