Topi Pesulap (2)

Satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu

Sophie yang baik,

Banyak orang mempunyai hobi. Sebagian orang suka mengoleksi koin kuno atau perangko luar negri, sebagian suka merajut, yang lain mengisi hampir seluruh waktu luangnya dengan olah raga tertentu.

Banyak orang senang membaca. Namun selera membaca itu berbeda-beda. Sebagian orang hanya membaca koran atau komik, sebagian senang membaca novel, sementara yang lain lebih menyukai buku tentang astronomi, margasatwa, atau penemuan-penemuan teknologi.

Jika kebetulan aku tertarik pada kuda atau batu mulai, aku tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukai kesenanganku. Jika aku suna menonton semua program oleh raga di TV, aku harus menyadari bahwa orang lain mungkin menganggap olah raga itu membosankan.

Tidak adakah sesuatu yang memikat hati kita semua? Tidak adakah sesuatu yang menyangkut kepentingan semua orang – tidak soal siapa mereka tau dimana mereka tinggal di dunia ini? Ya, Sophie sayang, memang ada masalah-masalah yang jelas akan menarik minat semua orang, dan itulah masalah-masalah yang dibahas dalam pelajaran ini. Apakah hal yang terpenting dalam kehidupan? Jika kita bertanya kepada seseorang yang sedang kelaparan, jawabannya adalah makanan. Jika bertanya kepada orang yang sedang kedinginan, jawabannya adalah kehangatan. Jika kita ajukan pertanyaan yang sama pada orang yang perasa kesepian dan terasing, jawabannya barangkali adalah ditemani orang lain.

Namun jika kebutuhan-kebutuhan dasar ini telah terpuaskan – masih adakah sesuatu yang dibutuhkan semua orang? Pada filosof menganggapnya ada. Mereka yakin bahwa manusia tidak dapat hidup dengan roti semata. Sudah pasti setiap orang membutuhkan makanan. Dan setiap orang membutuhkan cinta dan perhatian. Namun ada sesuatu yang lain – lepas dari semua itu – yang dibutuhkan setiap orang, yaitu mengetahui siapakah kita dan mengapa kita ada disini.

Tertarik pada pertanyaan mengapa kita berada disini bukanlah ketertarikan “sambil lalu” seperti mengoleksi perangko. Orang-orang yang mengajukan pertanyaan semacam itu ikut serta dalam suatu perdebatan yang telah berlangsung selama manusia hidup di atas planet ini. Bagaimana alam raya, bumi, dan kehidupan muncul merupakan suatu pertanyaan yang lebih besar dan lebih penting daripada siapa yang memenangkan medali emas paling banyak dalam Olimpiade yang lalu.

Cara terbaik untuk mendekati filsafat adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan filosofis:

Bagaimana dunia diciptakan? Adakah kehendak atau makna dibalik apa yang terjadi? Adakah kehidupan setelah kematian? Bagaimana jika kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini? Dan yang terpenting, bagaimana seharusnya kita hidup? Orang-orang telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini selama berabad-abad. Kita tidak mengenal kebudayaan yang tidak mengaitkan diri dengan pertanyaan apakah manusia itu dan darimana datangnya dunia.

Pada dasarnya tidak banyak pertanyaan filosofis yang harus diajukan. Kita sudah mengajukan sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang laing penting. Namun sejarah memberi kita banyak jawaban yang berbeda untuk setiap pertanyaan. Maka adalah lebih mudah untuk mengajukan pertanyaan filosofis daripada menjawabnya.

Sekarangpun setiap individu harus menemukan jawabannya sendiri untuk pertanyaan-pertanyaan yang sama. Kamu tidak tahu apakah ada Tuhan atau apakah ada kehidupan setelah kematian dengan mencarinya di buku ensiklopedi. Buku ensiklopedi juga tidak akan memberitahu kita bagaimana sebaiknya kita hidup. Namun, membaca apa yang telah diyakini orang lain dapat membantu kita untuk merumuskan sudut pandang kehidupan kita sendiri.

Pencarian kebenaran yang dilakukan oleh para filosof menyerupai sebuah cerita detektif. Sebagian orang berpendapat Andersen adalah pembunuhnya, sementara menurut orang lain Nielsen atau Jenden. Polisi kadang-kadang mampu memecahkan suatu kasus pembunuhan sungguhan. Namun ada kemungkinan pula mereka tidak pernah sampai ke dasarnya, meskipun ada pemecahan di suatu tempat. Maka meskipun sulit untuk menjawab suatu pertanyaan, barangkali ada satu – dan hanya satu – jawaban yang tepat. Entah itu adanya semacam eksistensi setelah kematian – atau tidak ada.

Banyak teka-teki kuno yang kini telah berhasil dijelaskan melalui ilmu pengetahuan. Seperti apa sisi gelap bulan itu sebelumnya pernah terselubung misteri. Dulu itu bukanlah sesuatu yang dapat dipecahkan lewat diskusi, melainkan diserahkan pada imajinasi setiap individu. Tapi kini kita tahu dengan tepat seperti apa sisi gelap bulan itu, dan tak seorang pun yang masin “percaya” pada Manusia di Bulan, atau bahwa bulan itu terbuat dari keju hijau.

Seorang filosof yunani yang hidup lebih dari dua ratus tahun yang lalu percaya bahwa asal-mula filsafat adalah rasa ingin tahu manusia. Manusia menganggp betapa menakjubkannya hidup itu sehingga pertanyaan-pertanyaan pun filosofis muncul dengan sendirinya.

Seperti menonton tipuan sulap. Kita tidak mengerti bagaimana tipuan itu dilakukan. Maka kita bertanya: bagaimana pesulap itu mengubah sepasang selendang sutera putih menjadi seekor kelinci hidup?

Banyak orang menjalani pengalaman di dunia dengan ketidakpercayaan sama seperti ketika seorang pesulap dengan tiba-tiba menarik seekor kelinci dari topinya padahal sebelumnya telah ditunjukkan bahwa topi itu kosong.

Dalam kasus kelinci, kita tahu bahwa pesulap itu telah memperdaya kita. Yang ingin kita ketahui hanyalah bagaimana dia melakukannya. Tapi jika menyangkut dunia masalahnya agak berbeda. Kita tahu bahwa dunia bukanlah hasil sulapan tangan dan tipuan sebab kita berada disini di dalamnya, kita merupakan bagian darinya. Sesungguhnya, kita adalah kelinci putih yang ditarik keluar dari topi. Satu-satunya perbedaan antara kita dan kelinci putih itu adalah bahwa kelinci tidak menyadari dirinya ikut ambil bagian dalam suatu tipuan sulap. Tidak seperti kita. Kita merasa kita adalah bagian dari sesuatu yang misterius yang kita ingin tahu bagaimana cara kerjanya. – NB. Sepanjang menyangkut kelinci putih, barangkali lebih baik kita membandingkannya dengan seluruh alam raya. Kita yang hidup disini adalah serangga-serangga mikroskopis yang hidup di sela-sela bulu kelinci. Namun para filosof selalu berusaha untuk memanjat helaian-helaian lembut dari bulu binatang itu untuk dapat menatap langsung ke mata si tukang sulap.

Apakah kamu masih menyimak, Sophie? Bersambung…

Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s