Topi Pesulap (3)

Satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu

Sophie benar-benar kecapaian. Masih menyimak? Dia bahkan tidak mampu mengingat kapan dia berhasil mencuri waktu untuk bernafas sementara dia asyik membaca.

Siapa yang telah membawa surat ini? Tidak mungkin orang yang sama yang telah mengirim kartu ulang tahun kepada Hilde Moller Knag sebab kartu itu dibubuhi perangko dan cap pos. Amplop coklat itu telah dibawa sendiri ke kotak surat seperti dua amplop putih sebelumnya.

Sophie melihat arlojinya. Kini jam tiga kurang seperempat. Ibunya belum akan pulang kantor dalam waktu dua jam ini.

Sophie merangkak keluar menuju taman lagi dan lari ke kotak surat. Barangkali masih ada surat lain.

Dia menemukan satu lagi amplop coklat dengan namanya tertera disitu. Kali ini dia melihat berkeliling namun tidak ada seorang pun yang terlihat. Sophie lari ke tepi hutan dan memandang ke jalan.

Tidak ada seorang pun disana. Tiba-tiba dia mengira dirinya mendengar bunyi ranting jauh di dalam hutan. Tapi dia tidak benar-benar yakin, dan bagaimanapun juga tidak aka nada gunanya mengejar seseorang yang sudah bertekad untuk melarikan diri.

Sophie masuk ke rumah. Dia berlari ke kamarnya dan mengeluarkan sebuah kaleng kue besar yang berisi batu-batuan yang indah. Dia mengeluarkan batu-batuan itu ke lantai dan meletakkan kedua amplop itu kedalam kaleng. Lalu dia bergegas ke taman lagi, sambil memegang kaleng itu dengan hati-hati dengan kedua tangannya. Sebelum pergi dia mengeluarkan makanan untuk Sherekan.

“Kitty, kitty, kitty!” Begitu kembali berada disamping dia membuka amplop coklat kedua dan menarik keluar halaman-halaman ketika baru. Dia mulai membaca.

Makhluk Aneh

Halo lagi! Seperti kamu lihat, pelajaran filsafat yang ringkas ini akan diberikan sebagian-sebagian. Inilah kelanjutan kata pengantarnya:

Bukankah pernah ku katakan bahwa satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu? Jika belum, ku katakana sekarang: SATU-SATUNYA YANG KITA BUTUHKAN UNTUK MENJADI FILOSOF YANG BAIK ADALAH RASA INGIN TAHU.

Bayi-bayi mempunyai rasa ini, itu tidak mengherankan. Setelah beberapa bulan berada di dalam Rahim mereka keluar dan menghadapi suatu realitas yang sama sekali baru. Tapi sementara mereka bertambah besar rasa ingin tahu tampaknya berkurang. Mengapa begini? Tahukah kamu?

Jika seorang bayi yang baru lahir dapat berbicara, ia mungkin akan mengatakan sesuatu tentang dunia luar biasa yang dimasukinya. Kita melihat bagaimana dia melihat berkeliling dan meraih apa saja yang dilihatnya dengan penuh rasa ingin tahu.

Ketika kata-kata mulai dapat diucapkannya, anak itu akan menatap dan mengatakan “Guk, guk” setiap kali dia melihat seekor anjing. Dia melompat-lompat di dalam kereta dorongnya, melambai-lambaikan tangannya: “Guk guk! Guk guk!” Kita yang lebih tau dan lebih tau biasanya merasa agak kecapaian melihat semangat si anak. “Baiklah, baiklah, itu guk-guk,” kita bilang, tidak terkesan. “Ayo, duduklah yang manis.” Kita tidak terpesona. Kita sudah pernah melihat seekor anjing sebelumnya.

Pemandangan yang menggambarkan kegembiraan hatinya itu mungkin akan berulang ratusan kali sebelum si anak belajar untuk melewati seekor anjing tanpa menjadi ribut. Atau seekor gajah, atau seekor kuna nil. Namun jauh sebelum anak itu belajar berbicara dengan benar – dan jauh sebelum dia belajar untuk berpikir filosofis – dunia pasti menjadi sesuatu yang biasa baginya.

Sungguh sayang, jika kamu tanya pendapatku.

Aku ingin agar kamu tidak tumbuh menjadi salah seorang dari mereka yang menganggp dunia itu begini karena memang sudah seharusnya begitu, Sophie sayang. Maka hanya untuk memastikan saja, kita akan melakukan beberapa eksperimen dalam pikiran sebelum kita mulai dengan pelajaran itu sendiri.

Bayangkan bahwa suatu hari kamu keluar untuk berjalan-jalan di hutan. Tiba-tiba kamu melihat sebuah pesawat ruang angkasa kecil diatas jalan didepanmu. Seorang Mars mungkil memanjat keluar dari pesawat ruang angkasa itu dan berdiri di atas tanah sambil memandangimu.

Apa yang akan kamu pikirkan?

Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s