Topi Pesulap (4)

Satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu

Apa yang akan kamu pikirkan? Tidak apa, itu tidak penting. Tapi pernahkah terlintas dalam benakmu tentang kenyataan apakah sesungguhnya kamu sendirilah si orang Mars itu?

Memang sangat mustahil bahwa kamu akan pernah bertemu dengan seorang makhluk dari planet lain. Kita bahkan tidak tahu apakah ada kehidupan di planet-planet lain. Tapi kamu mungkin akan menemukan dirimu sendiri pada suatu hari nanti. Kamu mungkin akan berhenti dengan tiba-tiba dan memandang dirimu sendiri dengan suatu kesadaran yang sama sekali baru.

Aku seorang makhluk luar bisa, begitu katamu. Aku seorang makhluk misterius.

Kamu merasa seakan-akan kamu tengah terbangun dari tidur akibat disihir. Siapakah aku? Kamu bertanya. Kamu tahu kamu sedang berkeliaran diatas sebuah planet di alam raya. Tapi apakah alam raya itu?

Jika kamu mendapati dirimu bertanya begini kamu pasti telah menemukan sesuatu yang sama misteriusnya dengan orang Mars yang baru saja kita bicarakan. Kamu bukan hanya telah melihat seorang makhluk dari luar angkasa. Jauh di lubuk hatimu kamu akan merasa bahwa kamu sendiri seorang makhluk luar biasa.

Bisakah kamu memahamiku, Sophie? Mari kita buat eksperimen lain dalam pikiran:

Suatu pagi, ibu, ayah, dan Thomas kecil, yang berusia dua atau tiga tahun, sedang sarapan di dapur. Tak lama kemudian, ibu bangkit dan pergi ke bak cuci, dan ayah – ya, ayah – terbang dan melayang berputar-putar di langit-langit sementara Thomas duduk menonton. Kamu kira apa yang akan dikatakan Thomas? Barangkali dia akan menunjuk ke arah ayahnya dan berkata: “Ayah terbang!” Thomas pasti akan terkejut, memang dia sering sekali terkejut. Ayah melakukan begitu banyak hal aneh sehingga masalah terbang di atas meja sarapan itu tidak ada bedanya baginya. Setiap hari ayah bercukur dengan mesin yang lucu, kadang-kadang dia memanjat atap dan memutar-mutar antenna TV – atau dia akan menyurukkan kepalanya ke bawah moncong mobil dan tahu-tahu keluar dengan wajah hitam.

Kini giliran ibu. Dia mendengar apa yang dikatakan Thomas dan berbalik dengan tiba-tiba. Kamu kira bagaimana reaksinya melihat ayah melayang-layang dengan acuh tak acuh di atas meja dapur?

Dia menjatuhkan toples selai di atas lantai dan menjerit ketakutan. Dia bahkan mungkin memerlukan perawatan medis begitu ayah kembali duduk dengan hormat ke kursinya. (Ayah mestinya lebih mengenal sopan santun sekarang ini!) Menurutmu mengapa Thomas dan ibunya bereaksi dengan cara begitu berbeda?

Semua ada hubungannya dengan kebiasaan. (Catat ini!) Ibu sudah tahu bahwa orang tidak dapat terbang. Thomas belum. Dia belum yakin apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan di dunia ini.

Tapi bagaimana dengan dunia itu sendiri, Sophie? Apakah kamu kira ia dapat melakukan apa yang dilakukannya? Dunia juga melayang-layang di angkasa.

Sedihnya, bukan hanya kekuatan gaya berat sajalah yang terbiasa kita rasakan ketika kita tumbuh. Dunia itu sendiri dengan serta merta menjadi suatu kebiasaan. Tampaknya seakan-akan dalam proses pertumbuhan kita kehilangan kemampuan untuk bertanya-tanya tentang dunia. Dan dengan berlaku demikian, kita kehilangan sesuatu yang sangat penting – sesuatu yang oleh para filosof diusahakan untuk dipulihkan. Sebab di suatu tempat dalam diri kita sendiri, ada sesuatu yang mengatakan pada kita bahwa kehidupan merupakan suatu misteri yang sangat besar. Inilah sesuatu yang pernah kita alami, jauh sebelum kita belajar untuk memikirkan pemikiran itu.

Untuk lebih tepatnya: meskipun pertanyaan-pertanyaan filosofis itu menganggu benak kita semua, tidak semua kita menjadi filosof. Karena berbagai alas an, kebanyakan orang begitu disibukkan dengan permasalahan sehari-hari sehingga keheranan mereka terhadap dunia tersuruk ke belakang. (Mereka merayap jauh ke dalam bulu-bulu kelinci, meringkuk dengan kenyamanan, dan tinggal disana sepanjang hidup mereka.)

Bagi anak-anak, dunia dan segala sesuatu di dalamnya itu baru, sesuatu yang membangkitkan keheranan mereka. Tidak demikian halnya bagi orang-orang dewasa. Kebanyakan orang dewasa menerima dunia sebagai sesuatu yang sudah selayaknya demikian.

Disinilah tepatnya para filosof menjadi tokoh istimewa. Seorang filosof tidak pernah merasa terbiasa dengan dunia. Baginya, dunia selalu tampak sedikit tidak masuk akal – membingungkan, bahkan penuh teka-teki. Pada filosof dan anak-anak kecil karenanya sama-sama memiliki indra yang penting. Kamu boleh mengatakan bahwa sepanjang hidupnya seorang filosof selalu menjadi seorang anak yang peka.

Maka kini kamu harus memilih, Sophie. Apakah kamu seorang filosof yang mau bersumpah tidak akan pernah menjadi begitu?

Jika kamu menggelengkan kepalamu, tidak mengakui dirimu sebagai seorang anak ataupun seorang filosof, maka kamu telah menjadi begitu terbiasa dengan dunia sehingga dunia itu tidak lagi mengherankanmu. Waspadahlah! Kamu berada di atas lapisan es yang tipis. Dan inilah sebabnya mengapa kamu menerima pelajaran filsafat ini, hanya untuk berjaga-jaga saja. Aku tidak akan membiarkanmu, di antara semua orang lain, ikut berjajar bersama mereka yang apatis dan acuh tak acuh. Aku ingin kamu selalu ingin tahu.

Seluruh pelajaran ini gratis, maka kamu tidak akan kehilangan uangmu kalau kamu tidak menyelesaikannya. Jika kamu lebih suka menghentikan pelajaran, kamu bebas untuk melakukannya. Kalau memang demikian kamu harus meninggalkan pesan untukku di kotak surat. Sesekor katak hidup bolehlah. Sesuatu yang berwarna hijau, paling tidak, supaya pengantar surat tidak menjadi ketakutan.

Ringkasnya: seekor kelinci ditarik keluar dari topi pesulap. Karena ia adalah kelinci yang amat-sangat besar, tipuannya perlu dipelajari selama ribuan tahun. Semua makhluk hidup dilahirkan diujung setiap lembar bulu kelinci yang lembut, dimana mereka berada dalam posisi untuk mempertanyakan kemustahilan tipuan itu. Namun ketika mereka bertambah umur mereka sibuk menyelusup semakin dalam kebalik bulu-bulu itu. Dan disitulah mereka tinggal. Mereka merasa begitu nyaman sehingga mereka tidak mau mengambil risiko untuk memanjati kembali bulu-bulu halus itu. Hanya para filosof yang mau bersusah-payah menjalani ekspedisi yang berbahaya ini. Sebagian di antara mereka jatuh bertumbangan, namun yang lain tetap bertahan mati-matian dan meneriaki orang-orang yang terbuai di tengah kelembutan yang nyaman, menjejali diri mereka dengan makanan dan minuman lezat.

Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s