Topi Pesulap (5 End)

Satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu

“Ibu-ibu dan Bapak-bapak,” mereka berteriak, “kami melayang-layang di angkasa!” namun tak seorangpun di antara mereka yang peduli.

“Huh, gerombolan pembuat onar!” kata mereka. Dan mereka terus berceloteh: tolong ambilkan menteganya, ya? Seberapa banyak saham kita naik hari ini? Berapa harga tomat?

Ketika ibu Sophie tiba di rumah sore itu, Sophie masih dalam keadaan terheran-heran. Kaleng yang menyimpan surat-surat dari filosof misterius itu tersembunyi aman di sarang. Sophie berusaha untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya namun dia hanya bisa duduk sambil memikirkan apa yang telah dibacanya.

Dia tidak pernah berpikir sekeras itu sebelumnya. Dia bukan lagi seorang anak-anak – tapi dia juga belum benar-benar dewasa. Sophie sadar bahwa dia telah mulai merayap masuk kedalam bulu-bulu kelinci yang nyaman, kelinci yang ditarik keluar dari topi alam raya. Namun filosof itu telah menghentikannya. Dia – pria atau wanitakah dia? – telah menangkap bagian belakang lehernya dan menariknya kembali ke ujung bulu dimana dia telah bermain-main ketika masih kanak-kanak. Dan disana, dibagian paling ujung dari bulu yang lembut itu, dia sekali lagi melihat dunia seakan-akan untuk pertama kali.

Filosof itu telah menyelamatkannya. Tidak diragukan lagi. Penulis surat yang tak dikenal itu telah menyelamatkannya dari remen-temeh eksistensi sehari-hari.

Ketika ibu tiba di rumah jam lima sore, Sophie menyeretnya ke ruang duduk dan mendorongnya ke sebuah kursi berlengan.

“Bu – tidakkah ibu pikir mengherankan bahwa kita hidup?” dia memulai.

Ibunya demikian terkejut sehingga mula-mula dia tidak menjawab. Sophie biasanya sedang mengerjakan pekerjaan rumah ketika dia pulang.

“Ku kira memang demikian – kadang-kadang,” katanya.

“Kadang-kandang? Ya, tapi – tidakkah ibu pikir mengherankan bahwa dunia itu ada?”

“Hai, Sophie. Mengapa kamu berbicara seperti itu.”

“Mengapa? Barangkali ibu pikir dunia itu benar-benar biasa?”

“Yah, begitu kan? Kurang lebih, begitulah.”

Sophie sadar bahwa filosof itu benar. Orang-orang dewasa menganggp dunia sebagaimana adanya. Mereka telah membiarkan diri terbuai dalam tidur yang memabukkan dari eksistensi mereka yang membosankan.

“Ibu telah menjadi begitu terbiasa dengan dunia sehingga tidak ada lagi yang membuat Ibu heran.”

“Kamu sedang bicara apa sih?”

“Aku sedang membicarakan tentang menjadi terbiasa dengan segala sesuatu. Sama sekali suram, dengan kata lain.”

“Aku tidak mau diajak berbicara seperti itu, Sophie!”

“Baiklah, aku akan mengemukakannya dengan cara lain. Ibu telah membiarkan diri Ibu keenakan meringkuk jauh di dalam bulu-bulu seekor kelinci putih yang ditarik keluar dari topi pesulap alam raya saat ini. Dan tak lama lagi Ibu akan memasak kentang. Lalu Ibu akan membaca Koran dan setelah tidur siang setengah jam Ibu akan melihat berita di TV!”

Kekhawatiran membayang di wajah ibunya. Dia memang pergi ke dapur memasak kentang. Tak lama kemudian dia kembali ke ruang duduk, dan kali ini alah yang mendorong Sophie ke sebuah kursi berlengan.

“Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu,” dia memulai. Sophie dapat menyimak dari suaranya bahwa itu sesuatu yang serius.

“Kamu mulai minum obat terlarang, iya kan, sayang?”

Sophie merasa ingin tertawa, namun dia tahu mengapa pertanyaan itu dikemukakan padanya saat ini.

“Apakah kamu gila?” katanya. “Obat-obatan itu hanya membuatmu semakin dungu!”

Malam itu tidak ada lagi yang dibicarakan mengenai kelinci putih maupun obat terlarang.

Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder

4 thoughts on “Topi Pesulap (5 End)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s