Cerah Hujan

Tertanggal 10 April 2011, dokumen notepad yang terselip menyendiri di dalam rentetan folder yang beranak pinak ๐Ÿ™‚ Membacanya kembali akupun teringat pada nuansa masa itu, siapa aku 3 tahun yang lalu.

Cerah, sumber energi cahaya gratis.
Cerah dan bahasa semangat.
Cerah dan hangatnya mentari.
Sebagai inspirasi.
Sebagai media penghasil senyum berjuta rasa.

Cerah, petugas satpol kegelapan.
Cerah dan bahasa betadine hati.
Cerah dan pembasmi jalur belok dari pikiran tak tepat.
Sebagai pemaksaan-positif.
Sebagai tempat bersembunyi orang cengeng,
yg masih mau tersenyum.

Hujan, tangisan langit.
Hujan dan bahasa sendu.
Hujan dan mendung tebal.
Sebagai melankolisme.
Sebagai tempat bersembunyi orang cengeng,
yg tidak mau di bilang cengeng.ย  Baca lebih lanjut

Iklan

Hidup, Tumbang, dan Berganti. Lalu apa?

Sebelumnya mungkin aku pernah melihatnya, dalam ingatanku dia terlihat baik-baik saja sama seperti yang lainnya. Aku tidak begitu mengingatnya, karena dia terlihat tidak istimewa dimataku. Ya, memang, aku sama seperti yang lainnya. Berlalu lalang didepannya, melihatnya sepintas, atau melihatnya lebih lama tapi tidak mengamati dan memaknai kehadirannya.

Hingga hari itu aku melihatnya terlihat berbeda dari yang lainnya. Saat itulah aku mendapatkan pandanganku mulai memaknai kehadirannya. Dia yang selalu berada di ujung jalan bersama sederetan teman-temannya. Dia yang juga seperti aku, hidup di atas bumi ini bersama orang-orang lainnya.

Seperti yang kusebutkan sebelumnya, hari itu dia berbeda. Paling berbeda diantara teman-temannya kali itu. Sebenarnya dia hanya diam berdiri ditempatnya, sama seperti sebelumnya, hanya saja kali ini dia terlihat hampa. Tak nampak lagi keceriaan dalam raganya, sama sekali. Auranya terlihat melemah, apa yang dia banggakan seperti lenyap, dia tak lagi bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan bersama teman-temannya, dari sinar jiwanya terpancar sebuah kalimat pekat โ€œaku hanya cukup berdiri dan diam, itu sudah cukup.โ€ Hampa.ย  Baca lebih lanjut

Tulisan Pertamaku : Mengapa Kita Harus Belajar?

Sebelumnya, tulisan ini adalah tulisan yang seharian tadi aku kerjakan dengan bergelora-mengalir-dalam-jemari diatas keyboard :”> Tulisan yang (mungkin) pertama aku publish dan sengaja buat sesuai dengan tema pertanyaan yang tersedia oleh salah satu komunitas yang aku harap aku bisa turut serta menjadi aktif disana, komunitas yang berinteraksi dengan dunia anak-anak karena mimpiku yang begitu besar untuk anak-anak Indonesia agar Indonesia lebih baik di masadepan. Boleh jadi ibu pertiwi saat ini sedang sakit, tapi sakit itu memang karena beberapa sel darah kotor yang memang harus dibuang, dan nanti pasti akan diregenerasi oleh sel-sel darah baru. Dan harus kita pastikan, sel-sel darah baru itu lebih baik dari sel-sel darah yang sekarang beredar di seluruh raga ibu pertiwi. Karena ibu pertiwi kita hanya satu, Indonesia. Siapa lagi yang dapat membuatnya menjadi lebih baik jika bukan kita sendiri, atau adik-adik, atau bahkan anak-anak kita nanti? ๐Ÿ™‚ Semangat Perubahan!

Okelah, ini dia tulisan saya, ๐Ÿ™‚ sedang dalam berproses menjadi lebih baik [entah nanti tulisan ini akan diposting, disimpan, diabaikan, atau didididi yang saya harap baik-baik ๐Ÿ˜€ hehehe] oleh admin yg sudah saya email hari ini juga *ya, karena saya sangat bersemangat sekali. Artikel ini dibuat berdasarkan pertanyaan ” Muhammad Robby Kusumah :ย Mengapa Kita Harus Belajar?” dalam komunitas anakbertanya.com. Here we go!ย  Baca lebih lanjut

Belajar Bahasa, Belajar Berkata

Yap, problem utama dari seseorang (seperti diriku ini) adalah berkata-kata. Akan lebih mengalir apabila berada dibalik keyboard, atau pena dan pensil (ya, setidaknya lebih baik) dari pada berdiri didepan beberapa orang yang sangat siap mendengarkan informasi yang penting. Kadang acakadul, kadang meracau, kadang nggak tertata, dan bla bla bla, berbagai paket rentetan lain yang berhubungan dengan public-speaking.

Ya, disamping sudah memahami bahwa berkata-kata itu sangat penting, ada juga utusan dari dewa langit (aka. bos-kantor) buat bikin conversation bahasa asing, setiap hari selama hari aktif, dan yang tentunya pasti akan sangat berdampak positif dengan keluwesan berbahasa, ya meski sementara ngomong sendiri dulu lah.

Ini ada 2 video yang sudah dibuat, video amatir yang sangat disarankan untuk… ya menontonnya sebentar boleh lah, tapi sebentar saja ya… jangan lama-lama, nanti sakit mata, sakit telinga, bisa masuk rumah sehat :v

Cipratan Hujan

Belakangan hari hujan memang turun, sering, lebih sering, sangat sering, agak sering, tapi hari ini menjadi mendung. Sebenarnya artikel ini bukan tentang main hujan-hujanan, tapi maknanya tidak jauh dari makna sebenarnya. Ya, kalau dilihat-lihat dari postingan blog ini sebelumnya, memang mayoritas adalah tugas, selebihnya adalah beberapa chapter buku yang terpisah dan sampai saat ini belum habis terbaca *dontaskme,idontknowwhyhow. Mungkin ada faktor kesengajaan dari penulis (yaitu aku sendiri, hallah -_-) untuk sembunyi dibalik ranting-ranting bambu, hanya saja. Sejak di suatu siang yang lumayan cerah, dalam perjalanan menuju tempat yang sudah setahun yang lalu kaki ini berpijak, ada sebuah udara berbeda yang kehirup di hidung (apasih, tapi that’s true loh). Ya bukan udara beraroma lho yaa, hanya udara netral seperti biasa tapi bisa membuat syaraf otak ini seperti terkena cipratan hujan (inilahmaksud-judulartikelini!). Apakah itu? Kesadaran!

Sudah terasa sangat lama sekali aku tidak pernah menulis, menggambar, mewarnai, dan melakukan hal-hal yang disukai. Setelah di flash back, yang dilakukan setahun (agak lebih mungkin) kemarin adalah just do, without feeling. Ya, cuman jalanin hidup aja. Slow with the flow like jellow, tapi sayangnya buat hidupku sepertinya kurang [nggeh]. Kehilangan diri sendiri, kehilangan kesadaran (bukan pingsan), ini memang aneh. Ada sebuah percakapan film yang bilang begini, “… dan ketika aku bermimpi dengan mata terbuka …”. Kalimat itu cukup lama untuk bisa dicerna, intinya adalah apa yang dilihat tidak benar-benar bisa dipahami, seperti ilusi, seperti khayalan, seperti mimpi. Apa yang di tangan seperti tidak benar-benar disentuh, apa yang di genggam seperti tidak memiliki sebuah arti apa-apa. Padahal nyata adalah apa yang bisa disentuh dan digenggam

Bagaimana mungkin kamu tidak hidup dalam mimpi jika semua orang disekitarmu mulai meramalkan apa yang akan terjadi padamu. Mereka sangat optimis dengan terus meneriakkan kalimat-kalimat ghaib tentangmu, mimpi yang pasti akan tercapai, bahkan tersadar bahwa semua yang mereka katakan adalah harapan besar yang harus dipikul. Beberapa motivator mengatakan yang intinya adalah, “ketika semua orang percaya padamu, apakah masih ada alasan bagimu untuk tidak percaya pada dirimu sendiri?” kalimat ini sangat melekat sepanjang hari-hariku di tahun lalu. Dan apa yang aku putuskan? Aku menjalaninya, hanya itu. Aku mengikuti arus, aku melihat sekitar, aku diam, aku pasif, aku beradaptasi, aku meraba tembok, lantai, dan mungkin apa yang ada diatas kepalaku. Terlalu lama? hingga menghabiskan waktu setahun, biar saja! Ada yang bilang padaku, “Nggak papa lama, karena itu emang proses!”

Sebelum setahun lalu adalah waktu yang sangat disyukuri sepanjang hidupku, air mata bangga wanita yang paling aku cintai, ibuku, berlinang. Hanya itulah alasanku, selama setahun yang lalu tidak memberontak untuk berdiri dengan tanpa rasa. Rasa yang baru saat ini tersadar bahwa inilah saatnya aku kembali menulis, menggambar, mewarnai, dan melakukan apapun. Telat? siapa bilang? Hhhh, berisik.

Dan yang pasti, ini tidak akan pernah terjadi tanpa kehendakNya, Tuhanku satu, Allah subhanallah wa ta’ala… Dia-lah tempatku kembali, setelah sekian lama jiwa mencari makna, memang hanya Dia-lah penerangku. Terimakasih untuk sahabat-sahabatku yang juga ikut serta membantuku berlari mengejar cintaNya, ridhoNya, kasihNya, dan damaiNya… Semoga jalinan ukhuwah kita akan selalu terjaga, dan semoga Allah, Tuhan kita, akan selalu memberikan petunjuk dan bimbingan pada kita ๐Ÿ™‚

Akhir kata, ku ulas senyuman ikhlas dibalik layar dan deretan keyboard, semoga tulisan ini bermanfaat. Salam, Sukeipah.