Hidup, Tumbang, dan Berganti. Lalu apa?

Sebelumnya mungkin aku pernah melihatnya, dalam ingatanku dia terlihat baik-baik saja sama seperti yang lainnya. Aku tidak begitu mengingatnya, karena dia terlihat tidak istimewa dimataku. Ya, memang, aku sama seperti yang lainnya. Berlalu lalang didepannya, melihatnya sepintas, atau melihatnya lebih lama tapi tidak mengamati dan memaknai kehadirannya.

Hingga hari itu aku melihatnya terlihat berbeda dari yang lainnya. Saat itulah aku mendapatkan pandanganku mulai memaknai kehadirannya. Dia yang selalu berada di ujung jalan bersama sederetan teman-temannya. Dia yang juga seperti aku, hidup di atas bumi ini bersama orang-orang lainnya.

Seperti yang kusebutkan sebelumnya, hari itu dia berbeda. Paling berbeda diantara teman-temannya kali itu. Sebenarnya dia hanya diam berdiri ditempatnya, sama seperti sebelumnya, hanya saja kali ini dia terlihat hampa. Tak nampak lagi keceriaan dalam raganya, sama sekali. Auranya terlihat melemah, apa yang dia banggakan seperti lenyap, dia tak lagi bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan bersama teman-temannya, dari sinar jiwanya terpancar sebuah kalimat pekat “aku hanya cukup berdiri dan diam, itu sudah cukup.” Hampa. 

Aku berhenti didepannya sejenak saat aku melewatinya, mungkin hanya 10 detik lalu aku melanjutkan langkahku. Pulang.

Pertanyaan mencuat satu per satu, bagaimana ia bisa terlihat begitu hampa seperti itu? Pergi kemana kebanggaannya itu? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia terlihat berbeda dari teman-temannya? Dan mungkin jika dia tidak begitu, aku tidak akan bertanya seperti, seperti peduli pada apa yang telah aku abaikan. Padahal dia disekitar. Meskipun bukan tanggung jawabku untuk melindunginya dari segala apapun di dunia ini, selain aku bukan ibunya, aku tak memiliki peran apapun untuknya, aku hanya orang sekitar, aku hanya penonton. Menonton kehidupannya, mulai dari hari itu.

Aku memang tak pernah tau apa yang terjadi padanya sebelumnya, tapi melihatnya begitu aku menjadi bertanya-tanya. Hidupnya memang terlihat biasa-biasa saja, natural dan normal. Dia sama denganku, hidup diatas bumi yang sama. Dia juga melaksanakan tanggung jawabnya sebagai makhluk hidup, bahkan mungkin hidupnya lebih berarti karena dia telah berkonstribusi dalam kemasyarakatan lebih banyak dibanding aku, setidaknya sebagian kecil di atas bumi ini.

Ya, dia lah yang mengolah apa yang kita hembuskan untuk bisa menjadi apa yang kita hirup kembali, karbondioksida yang menjadi oksigen, fotosintetis. Pohon, ya itulah sejatinya dia. Dedaunan itu adalah kebanggaanya. Tanpanya apa lagi yang bisa dia lakukan? Tidak ada lagi fotosintesis, tidak ada lagi konstribusi kepada masyarakat bumi, dia hanya berdiri dan diam, seperti yang telah aku sebutkan sebelumnya.

Hari berikutnya, aku kembali mengamatinya, lebih dekat. Ku temukan beberapa lembar dedaunan yang tersisa darinya, telah mengering dan layu. Dia terlihat benar-benar sakit. Aku? Aku hanya diam dan mengamatinya saja, tak ada yang bisa aku lakukan. Bukanlah tugasku untuk merawatnya meskipun aku menjadi sangat peduli padanya, ada orang lain yang lebih bertanggung jawab atasnya. Dan kalaupun aku punya wewenang atasnya, aku tak tau apa yang bisa aku lakukan. Memberinya pupuk? Menyiraminya? Bahkan hujan sudah mendera berbagai kota di Negara ini selama beberapa hari. Aku tidak tau apa permasalahannya, dia hanya hampa. Mengering tanpa kebanggaan.

Hari berganti, gerimis semalam mengguyur. Mungkin hujan adalah satu-satunya harapannya untuk bisa kembali menumbuhkan dedaunan yang kering dan layu itu. Ia hanya butuh waktu lebih lama, untuk kembali ceria seperti semula, saat aku belum memaknai kehadirannya. Tapi dari kejauhan, saat aku melangkah mendekat mengarah padanya. Ia sudah tumbang, rupanya pemiliknya memilih untuk pohon yang baru. Ia tak kan menunggu pohon yang sudah mengering itu tetap tumbuh. Meski ia tegak berdiri, tapi kenyataannya, dia tidak lagi bisa berkonstribusi. Meski ia tegak berdiri, tapi kenyataannya tugasnya sudah selesai. Ya, tugasnya telah selesai. Ia telah menjalani tanggung jawabnya hingga seluruh kebanggaannya gugur dan melayu, hingga ia dapat dipastikan bahwa ia telah selesai.

Dan yang sedikit menyedihkan buatku, tugas yang selesai itu harus dibayar dengan nyawanya. Dicabut hingga ke akar, akar yang tadinya masih kokoh kini tumbang. Kini ia hanya segelongong kayu tumbang yang hampa tanpa kebanggaan. Aku menunduk, mendelik diam-diam lalu pergi. Berpikir.

Kami adalah sesama makhluk hidup yang tinggal di bumi. Aku manusia, dia Pohon. Hidupku memang lebih rumit daripada sebuah pohon yang berdiri di ujung jalan bersama pepohonan yang lain. Tapi kami memiliki garis besar kehidupan yang hampir sama. Lahir, hidup, dan mati. Hidup adalah tanggung jawab, dan dia melakukannya seperti yang Tuhan perintahkan. Melakukan tanggung jawab dengan baik, lalu aku? Apa tanggung jawabku? Sebagai manusia, apa tanggung jawab yang aku emban? Yang Tuhan kodratkan sebagai makhluk sosial, yang Tuhan jadikan makhluk yang hidup bersama keluarga, teman, dan sahabat, tidak hanya itu bahkan orang asing. Apa yang aku berikan untuk mereka? Tanganku bahkan terasa sangat egois karena lebih sering berpikir tentang hidupku sendiri. Pohon, terimakasih. Kamu memberiku pelajaran, tentang 3 hal: hidup yang berarti dan bermanfaat untuk makhluk hidup sekitar ; bisa jadi ketika hidup aku melihatmu sebagai pohon biasa, tak ada beda, tapi tumbangmu dengan makna yang bisa aku maknai; dan tidak peduli kau hidup sama dengan teman-temanmu atau tidak, menjadi tidak unik ataupun unik hanya masalah tentang seberapa orang memperhatikan dan menyimak dari kehidupanmu, dan aku, adalah satu penonton dari uniknya hidupmu saat tanpa kebanggan. Mungkin itu menyedihkan, tapi bagiku kamu tetap tumbang dengan makna yang bisa aku mengerti. Terimakasih Pohon…😀

Dirangkai berdasarkan cerita nyata, ku persembahkan tulisan ini untuk pohon yang tumbang dan bermakna, pohon depan kantor.

13 Feb 2014 — pertama kali aku menyadari kehadirannya

Foto-007623 Feb 2014 — ketika aku mengamatinya lebih dekat

Foto-0034Foto-0035Foto-0036Foto-0037Foto-0038Foto-0039

26 Feb 2014, dia telah tumbang dan berganti, tugasnya telah selesai.

Foto-0032Foto-0033Foto-0034Foto-0035 Foto-0036 Foto-0038

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s