Lukisan 9 Maret 2014, Untitled

Hari itu sebenarnya kepalaku sedang pusing, badanku tidak enak. Tapi karena lelah seharian berbaring ditempat tidur, jemariku merindukan warna dalam kertas putih lebar milikku. Sketch book yang telah lama aku tak menggambarnya lagi. Gambar terakhir hanyalah 6 cetakan tangan dari 2 orang yang sudah lama berpisah, lama sekali mungkin ribuan tahun sampai aku lupa siapa nama mereka… 😀

Dan hari itu, warna kembali menoreh dalam kertas…

Foto-0010x

Terinspirasi dari 3 buah warna dasar yang ku miliki, merah, biru, dan kuning. Setiap bulatan memiliki detail makna, simak:

Foto-0015x
Foto-0019x Disinilah ketiga warna itu bercampur, mulanya memang warna merah dan kuning, menyatu hingga membuat warna orens sempurna namun dengan warna kuning yang masih jelas disekitar.Selanjutnya warna merah yang tadi telah bercampur dengan warna biru, membaur dengan warna kuning, namun biru terlalu pekat untuknya hingga dapat kita lihat warna percampuran antara merah dan hijau tua.

Dan yang terakhir bulatan biru yang jelas kontras dengan warna kuning, ini mengisyaratkan bahwa warna biru tak pernah bercampur dengan warna kuning. Namun guratan warna kuning, lebih kontras terlihat.

Foto-0020x Warna yang tercampur adalah warna merah dan biru. Warna dasar dari bulatan ini adalah merah, dengan percampuran warna biru dalam kepala dan sungutnya, bahkan badannya hampir dijalari warna itu.
Foto-0021x Sedangkan warna dasar biru dengan warna kuning pekat yang telah bercampur di bagian atas, dengan sayap-sayap merekah seperti sedang ingin menggapai warna dasar biru. Semakin dekat meski tidak dalam satu gravitasi.
Foto-0005x Warna biru disini adalah warna dasar, sayap dari bulatan masih sangat jelas terlihat warna biru, namun badannya telah bercampur dengan warna merah meski hanya sedikit. Warna merah telah ternetralisir dan sengaja dipisahkan dari warna dasar biru, seakan sedang menyerap warna merah yang sedikit dalam tubuh dasar biru, hingga nanti tidak akan ada lagi merah didalamnya.

Jauhnya Cinta, Karena ia Belum Halal

Mereka sering mengatakan padaku bahwa aku memilikinya, menerimanya, memberikannya, merasakannya atau bahkan bergelut dengannya. Sebenarnya tidak banyak yang aku mengerti, tetapi yang pasti setiap manusia memiliki fitrah atasnya, memberi dan menerima cinta.

Aku? adalah salah satu aktor serta penontonnya. Hingga akhirnya aku mulai memahami suatu hal yang sangat mendasar. Bahwa apa yang ku sebut cinta selama ini adalah masih haram buatku, buat gadis yang belum menikah sepertiku. Dengan seluruh kesadaranku, Allah telah memberiku peringatan berulang-ulang atas keteledoranku itu, keteledoran untuk jatuh cinta pada seorang anak adam, peringatan itu berupa dijauhkan dari orang yang kucintai.

Sedih? Sesal? memang, itulah yang terjadi. Meski niat untuk berikrar itu telah terurai diatas bibir, tapi semua itu tiada arti bila tanpa tindakan. Ya, itu terlihat sama saja. Aku pun mengerti, bahwa aku harus lebih sabar menunggu seseorang menjemputku untuk bersedia aku cintai dengan halal.

Bukankah jelas agamaku mengajarkanku? Bukankah jelas Tuhanku, Allah, membimbingku? Semoga aku dan seluruh gadis yang memiliki pendapat yang sama denganku selalu diingatkann atas kesadaran yang berharga ini. Terimakasih ya Tuhanku satu, Allah SWT. 🙂

Merah Marah

Rentetan kalimat yang tak sengaja terbaca itu menyulut api, membuat suasana menjadi merah, menjadi marah. Mengendap uraian kalimat yang tercekat karena rasa, terbakar sendiri hingga akhirnya kalimat itu terbaca seperti sebuah penyangkalan. Aku baik-baik saja, begitulah katanya. Aku tidak peduli, begitulah ungkapnya.

Ada apa ini? Dia seperti hilang kendali. Apa yang dia lakukan dan apa yang dia katakan menjadi salah dan terdengar lucu. Bukankah tadi ia baik-baik saja? lalu kenapa kalimat itu membuatnya sedikit berubah?

Harusnya memang dia baik-baik saja, karena sebelumnya memang baik-baik saja. Lebih tepatnya sebelum kalimat itu terbaca olehnya. Dia menjadi satu-satunya orang yang terlihat aneh, lebih aneh dari sekedar memerah sendirian dari dunia yang terlihat hijau. Faktanya memang, emosinya lebih kental dari apa yang disebutnya logika.

Yang ia butuhkan hanyalah sebuah tempat asing, sebuah tempat untuk dirinya sendiri, untuk mengenal dirinya lebih dekat, tempat untuk menyamakan presepsi antara emosi dan logikanya.

Satu buah pertanyaan yang lupa ditanyakan, kenapa ia begitu? Karena sebuah ilusi telah bermain dengan warnanya, membuatnya menjadi sangat pekat hingga akhirnya ia lupa dimana ia hidup dalam sebuah ilusi, sebuah rasa tak berbentuk.

Jauh

Jauh adalah sebuah kata dimana bumi terasa semakin menjadi luas, tubuh yang semakin mengecil, angka dari sebuah jarak yang menjadi ribuan. Tapi jauh buat orang sepertiku, hanyalah jarak yang tidak ditempuh, sesuatu yang tidak diraih, sesuatu yang tidak ada secuil upaya untuk menjadikannya sebagai sesuatu yang dekat. Jauh menjadi bagian dari rasa. Ya, merasa jauh.
Rasa yang tertanggal dalam ilusi dan terurai dalam nuansa. Bukankah ia tak dapat dilihat? Tak dapat disentuh? Ia seperti angin, yang hanya terasa tanpa bisa disimpan dalam sebuah kotak. Ia tak berbentuk, tak berwarna, dan tak terlihat.

Sajak Kacamata

Puisi ini sangat cantik, sampai-sampai selama 2 tahun ini aku sering mengulang sebagian kalimatnya untuk ku ingat dan ku rasakan maknanya. Jawa Pos. Minggu, 4 Maret 2012, hal. 10. Karya Yayan Triyansyah.

Aku mencintaimu seperti kacamata yang kau pakai;
Yang tak pernah kau lihat tapi ada lebih dekat dari segala macam benda-benda di depanmu;
Serta menata ihwal pandangmu tentang yang jauh dan dekat.

Aku menyayangimu seperti kacamata yang kau pakai;
Yang menampakkan jelas semua kesamaran;
Namun menyamar dengan rapi di depan matamu;
Membuatmu tampak lebih manis diperhatikan.

Aku menemanimu seperti kacamata yang setia,
Yang hanya bisa hilang bila kau lupa menaruhnya;
Atau jatuh di jalan dan tak kau temukan kembali.

Aku telah mencintaimu seperti semua kacamata;
Yang hanya dapat kau lihat jelas saat kau lepas;
Untuk sekedar dibersihkan atau ditinggakan demi kacamata baru.