Merah Marah

Rentetan kalimat yang tak sengaja terbaca itu menyulut api, membuat suasana menjadi merah, menjadi marah. Mengendap uraian kalimat yang tercekat karena rasa, terbakar sendiri hingga akhirnya kalimat itu terbaca seperti sebuah penyangkalan. Aku baik-baik saja, begitulah katanya. Aku tidak peduli, begitulah ungkapnya.

Ada apa ini? Dia seperti hilang kendali. Apa yang dia lakukan dan apa yang dia katakan menjadi salah dan terdengar lucu. Bukankah tadi ia baik-baik saja? lalu kenapa kalimat itu membuatnya sedikit berubah?

Harusnya memang dia baik-baik saja, karena sebelumnya memang baik-baik saja. Lebih tepatnya sebelum kalimat itu terbaca olehnya. Dia menjadi satu-satunya orang yang terlihat aneh, lebih aneh dari sekedar memerah sendirian dari dunia yang terlihat hijau. Faktanya memang, emosinya lebih kental dari apa yang disebutnya logika.

Yang ia butuhkan hanyalah sebuah tempat asing, sebuah tempat untuk dirinya sendiri, untuk mengenal dirinya lebih dekat, tempat untuk menyamakan presepsi antara emosi dan logikanya.

Satu buah pertanyaan yang lupa ditanyakan, kenapa ia begitu? Karena sebuah ilusi telah bermain dengan warnanya, membuatnya menjadi sangat pekat hingga akhirnya ia lupa dimana ia hidup dalam sebuah ilusi, sebuah rasa tak berbentuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s