Pucat.

Semakin memucat rona merah yg selama ini dibanggakan. air seakan menggenang menyeluruh dalam ruangan, membuat warnanya luntur. tapi sama sekali tak ku temukan, dimana sumber warna terkikis habis itu. dan aku tau, semakin lama aku menemukannya, nafasku akan tersedak oleh air yg terus mengalir bercampur. sebelum aku gegap, dan tenggelam.

ada apa ini? kenapa ini? kembali ku tanyakan lagi, siapa aku? kembali ku tanyakan lagi, dimana aku?
bukan lagi di rumah! “anak rantau tak takut mati” begitulah kalimat yang tertera di depan kemudi supir angkot.

aku pucat, aku memucat. seperti hampir mati, disini di dalam sini. di suatu sudut yang aku tidak tau sumbernya dimana, suatu sumber yang harus segera ku cari agar dia tak lagi luntur memenuhi ruangan. karena luntur hanya akan membuatnya terlupakan, memudar dalam hitungan jemari yang lelah. karena aku tak mau dilupakan begitu saja, aku mau hidup seribu tahun lagi, memberi arti dalam hidup, setidaknya pada sekelompok semut dipekarangan atau seekor kucing di jalanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s