Puisi : Dan Jika Senja ~

mungkin senja akan selalu sama seperti hari-hari sebelumnya
tapi disini ada sebuah ruang kosong
kosong, kosong sekali
seakan senja tiada berarti
meski aku tetap mengagumi
setiap hiasan langit yang menghiasi

Allahumma ishfi shifaa ann laa yughaadiru saqama
Ya Allah, Engkaulah yang menyembuhkan dengan penyembuhan penuh, bahkan tanpa rasa sakit apapun

Iklan

Catatan Hati Anak Kos : Sabtu Minggu Ciamik!

Alhamdulillahhh Allah menciptakan hari Sabtu dan Minggu~ apalagi kalo sabtu-minggunya di kosan, hehehhhe… ya meskipun ada tugas yg berentet, dan sepaket kerjaan buat hari-hari kedepan. Tapi it’s ok lah… take-a-time for my self~ enjoying my life~ uhuuuu… Ahhh tadinya aku mau post tentang resep memasak, eksperimen dapur di hari libur… tapiii yaa apalah daya, eksperimennya belum sempurna, hehehe rasanya masih mmmm, nda bikin sakit perut apalagi beracun.. masih aman kok tapi kurang pas di lidah… mungkin kurang cinta, halah -_- . Maklumlah, masih single jadi belum mahir… memang harus banyak2 belajar dan bertanya pada yg ahli :3 mengingat bahwa prospek setiap wanita nanti akan menjadi seorang ibu, yg harus bisa masak-ciamik biar nanti suami dan anak-anaknya selalu kangen rumah *ceilehh Tapi meskipun aku nggak jadi posting resep memasak, setidaknya lihatlah hasil eksperimen sabtu mingguku… inilah diaaa… eng ing engg…

masakan

Harganya murah meriah kok, emang tergantung bahannya sih… yg sebelah kiri, itu masakan hari sabtu, belanja sekitar 12 ribu. Sedangkan masakan hari minggu, belanja sekitar 10 ribu padahal ikan, beberapa bahan emang udah kebeli di hari sabtu. Jangan tanya itu ikan apa, karena aku lupa tanya sama mamangnya. Btw, itu adalah masakan ikan segarku yg pertama. Lanjut aktifitas selanjutnya yg nggak kalah asik nih selain masak, melukisssss!!! Hehehehe… inilah diaaaa… lukisan-all Abstrak semua, hahahahahahhaa.. gak usah nanya artinya apaan… silahkan artikan sesuai dengan kacamata sendiri :p karena emang aku nglukis ya nglukis aja rata-rata nggak mikir mau ngasih makna apaan hehehehe. Semua gambar diatas, cuma pake 3 warna dasar merah, biru tua, dan kuning. Karena emang cuma 3 warna cat air itu yg aku punya, hehehe. Lanjut ke aktifitas ke tiga, yg brasa surga dunia banget adalahhh baca buku sambil makan mangga dan minum susu-stobeli. Beuuuhhhh, nikmat banget dahh. Kebetulan pas lagi baca buku yg belinya udah bulan juni kemaren, baru kebaca fokus seminggu kemarin dan habis hari ini. Yeay! Foto-0050 Selanjutnya, masih surga-dunia… tidur siang dan akhirnya menikmati sore dengan menulis ini… hmmm… sabtu-minggu ini ciammiikk dahh. Oh iya, dari pagi sampe siang tadi aku ditemenin sama cingmil (kucing hamil) terseksi, kucingku yg belum sempat aku kenalkan disini… namanya Hore Rosalinda Aiamore hehehhee… panggil saja dia Hore… kapan-kapan aku ceritakan tentang dia. cingmil Dan menjelang malam… bersantai dengan film anak negeri hehehe biar tambah semangat~ Alhamdulillah, terimakasih ya Allah untuk hari ini 🙂 That’s so polite weekend without pressure-job!

Cerpen : Aku, Sepotong Daging di Atas Bumi (part 1)

Aku sedang melihat beberapa potongan daging ayam dalam piringku, enak. Makanan yang di buat Ibu memang selalu enak, karena beliau memang bekerja di catering. Hari ini tidak banyak kegiatanku, seperti hari-hari biasanya, aku bangun pagi, membantu ibuku di dapur, lalu berangkat kuliah, dan sore harinya aku pulang ke rumah, lalu mengerjakan tugas-tugas kuliah, melakukan aktivitas makhluk hidup pada umumnya, dan berakhir dengan terlelap dibawah selimut yang hangat.

Setiap hari akan berulang seperti itu, dan terkadang waktu hanya terasa berlalu begitu saja. Sembari memakan daging, aku mengingat bagaimana sebelum daging ayam ini berada disini, ayam ini pasti sebelumnya hidup, dia lahir, dia makan, dia bersosialisasi dengan ayam-ayam lain, mengerjakan tugasnya sebagai ayam yang baik, yaitu tidak makan sembarangan dan makan tepat waktu, tidak berkeliaran tengah malam, tidak tidur larut malam, selalu pulang ke rumah pemiliknya bukan rumah orang lain, dan semua tingkah baiknya selama hidup. Ya, itu adalah kehidupan daging ayam dalam imajinasiku.

Aku kembali pada diriku, jika aku hidup hanya sekedar hidup. Aku mungkin sama saja seperti ayam, hanya menjalani hidup dengan baik. Aku menghentikan makanku. Ya karena makanan dalam piringku sudah habis, hehehe. Hati kecilku berkata, kenapa sebelumnya aku nggak mikirin ini ya? Berarti selama ini aku hidup kayak ayam dong? Tapi bukankah Tuhan menciptakan manusia lebih sempurna dari ciptaan lainnya, seperti ayam? Apa yang membedakan aku dengan ayam? Ya, ayam tidak bisa berpikir, aku bisa!

“Sudah selesai dek?” Ibuku mengusik lamunanku.

“Sudah bu, terimakasih untuk makanan pagi ini… :)” tukasku sembari beranjak dari tempat duduk dan mencuci piring.

“Kak, berangkat yuk…” teriakku ketika melihat sekelebat bayangan lelaki maskulin dengan aroma parfum yang katanya cowok bangettsss… tapi aku pakai juga. Hehe. Oh iya, perkenalkan, namaku Hani, dan kakakku yang agak ganteng dan metroseksual itu, Boby.

“Makan dulu donggg… Nanti kalo aku tidak konsentrasi menyetir motor gimana? Kalo aku tiba-tiba lapar dan makan motor dijalan gimana? Nanti kan kita jadi bingung mau naik apa kalo ke kampus… ” celotehnya, dia memang sama sepertiku suka berimajinasi.

“Kak kak, ayamnya enak nggak?” tanyaku tiba-tiba, ketika melihatnya sudah mengunyah suapan pertamanya.

“Kenapa emang? Aku bilangin Ibu lhooo…” deliknya.

Aku memandang dengan mata sedikit menyipit, “apaan sihh… kak, kakak pernah ngerasa seperti ayam nggak?”

Dia seperti sedang memutar mata, “emmmm gimana yuaaa… aku dulu reinkarnasi dari naga sih, jadi nggak pernah kepikiran jadi ayam, hehehehe. Kenapa? Kamu sudah dapat wangsit kalo dulu reinkarnasi ayam? Hmmm… enaaakkk…” dengan kunyahan yang sengaja dilambatkan.

“Tau akh, kakak ihhh… serius nihhh…” aku sedikit merengek.

“Ya, enggaklah ngapain! Repot amat mikir hidup si ayam, ayam aja nggak mikirin kita?” celetuknya.

“Ya, ngapain ayam mikirin kita… kan Tuhan bilang manusia adalah makhluk yang bisa berpikir, bukan binatang seperti mereka…” dengan nada sedikit sebal aku menanggapinya.

“Trus masalahnya?” pertanyaanya semakin terdengar menyebalkan.

“Sudah sudah, kalian ini pagi-pagi sudah berantem. Bob, cepat makannya ini sudah jam berapa… nanti kalian telat ke kampusnya…” lerai Ibu dari arah ruang tamu.

“Iya buuu…” kompak kami menjawab. Dan kakakku terkekeh-kekeh senang sekali melihatku cemberut di pagi hari begini.

Mahasiswa semester 1 sepertiku, yang kuliah di perguruan tinggi politeknik, memiliki satu matakuliah yang saat ini sedang aku ikuti. Matakuliah Agama. Ya meskipun beberapa teman mencibir, “masa udah kuliah masih ada pelajaran kek begini. Yang begini mah sekolah anak-anak SD sampe SMA” tapi ada juga yang menyanggah dengan kalimat yang menurutku lumayan keren, “pelajaran agama mah sah-sah aja buat SD sampe SMA atau bahkan kuliah kayak kita, pelajaran agama tuh seumur hidup. Agama itu buat tuntunan hidup. Kok kamu bisa ngomong gitu sih? Emang sekarang agama kamu udah bagus? Udah mahir? Udah expert? Buktiin ntar noh di surga!”. Hehehe, langsung ya, kata-katanya menohok.

Ya, aku juga setuju sih… pelajaran agama emang nggak berbatas sampe level mana aja, dimanapun kapanpun bisa belajar agama. Agama emang penting buat fondasi hidup, tanpa agama mungkin hidup seseorang akan terasa hampa. Tidak ada tempat keluh kesah, tidak ada tempat memohon, tidak ada tempat berbagi sesuatu yang tidak bisa dibagi dengan siapapun, orang tua, saudara, teman atau bahkan orang lain.

“Ya, minggu depan kita ada tes mengaji, saya harapkan kalian bisa mengaji tartil, dan juga memaknai arti dari surat tersebut… kalian dapat menentukan sendiri ayat/surat yang kalian baca, setiap orang tidak boleh sama.” Sepotong kalimat penutupan matakuliah ini diakhiri dengan pengumuman yang cukup cukup cukup menarik

Dalam Bias Cermin

semua bermula saat ia berhenti menoreh tinta diatas kertas, hambar, pucat, tak berwarna… kembali ia berandai pada waktu yg tak bisa dibeli. kehilangan tangan, terjerat jala-jala ikan… kau terkapar, terkapar hampir mati. jika sudah begitu, apakah kau hanya akan diam saja dan melihat dalam bias cermin?

apakah kau hanya akan melihat ketika dirimu sendiri menjelang kematian? kau tau, tau dengan jelas bahwa racun telah digenggam, apa kau juga akan menelannya?

kemana, kemana dirimu yg ingin hidup seribu tahun lagi? bukankah sejak awal kita bersama menyadari bahwa kita tidak hanya segumpal daging berjalan diatas bumi? kemana? kemana tanganmu pergi dan menghilang? kemana? kemana kakimu berjalan? ke arah mana lagi kau akan berlari? atau kau hanya akan berdiri mematung disana? bersama jala-jala ikan yang belum selesai engkau sisihkan atau bahkan kau rajut dengan kakimu sendiri?

dalam bias cermin semua tertera, meski kau masih melihat kedua tangan yang masih utuh, kaki tanpa jala-jala ikan, atau bahkan genggaman racun. tapi kau sendiri tau, kita masih punya hidup… kita masih punya harapan… jangan mati, karena aku adalah kamu… raga dan roh yang dipinjam, titipan sang Ilahi, yang Punya Segalanya~ Allah