Dalam Bias Cermin

semua bermula saat ia berhenti menoreh tinta diatas kertas, hambar, pucat, tak berwarna… kembali ia berandai pada waktu yg tak bisa dibeli. kehilangan tangan, terjerat jala-jala ikan… kau terkapar, terkapar hampir mati. jika sudah begitu, apakah kau hanya akan diam saja dan melihat dalam bias cermin?

apakah kau hanya akan melihat ketika dirimu sendiri menjelang kematian? kau tau, tau dengan jelas bahwa racun telah digenggam, apa kau juga akan menelannya?

kemana, kemana dirimu yg ingin hidup seribu tahun lagi? bukankah sejak awal kita bersama menyadari bahwa kita tidak hanya segumpal daging berjalan diatas bumi? kemana? kemana tanganmu pergi dan menghilang? kemana? kemana kakimu berjalan? ke arah mana lagi kau akan berlari? atau kau hanya akan berdiri mematung disana? bersama jala-jala ikan yang belum selesai engkau sisihkan atau bahkan kau rajut dengan kakimu sendiri?

dalam bias cermin semua tertera, meski kau masih melihat kedua tangan yang masih utuh, kaki tanpa jala-jala ikan, atau bahkan genggaman racun. tapi kau sendiri tau, kita masih punya hidup… kita masih punya harapan… jangan mati, karena aku adalah kamu… raga dan roh yang dipinjam, titipan sang Ilahi, yang Punya Segalanya~ Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s