Cerpen : Aku, Sepotong Daging di Atas Bumi (part 1)

Aku sedang melihat beberapa potongan daging ayam dalam piringku, enak. Makanan yang di buat Ibu memang selalu enak, karena beliau memang bekerja di catering. Hari ini tidak banyak kegiatanku, seperti hari-hari biasanya, aku bangun pagi, membantu ibuku di dapur, lalu berangkat kuliah, dan sore harinya aku pulang ke rumah, lalu mengerjakan tugas-tugas kuliah, melakukan aktivitas makhluk hidup pada umumnya, dan berakhir dengan terlelap dibawah selimut yang hangat.

Setiap hari akan berulang seperti itu, dan terkadang waktu hanya terasa berlalu begitu saja. Sembari memakan daging, aku mengingat bagaimana sebelum daging ayam ini berada disini, ayam ini pasti sebelumnya hidup, dia lahir, dia makan, dia bersosialisasi dengan ayam-ayam lain, mengerjakan tugasnya sebagai ayam yang baik, yaitu tidak makan sembarangan dan makan tepat waktu, tidak berkeliaran tengah malam, tidak tidur larut malam, selalu pulang ke rumah pemiliknya bukan rumah orang lain, dan semua tingkah baiknya selama hidup. Ya, itu adalah kehidupan daging ayam dalam imajinasiku.

Aku kembali pada diriku, jika aku hidup hanya sekedar hidup. Aku mungkin sama saja seperti ayam, hanya menjalani hidup dengan baik. Aku menghentikan makanku. Ya karena makanan dalam piringku sudah habis, hehehe. Hati kecilku berkata, kenapa sebelumnya aku nggak mikirin ini ya? Berarti selama ini aku hidup kayak ayam dong? Tapi bukankah Tuhan menciptakan manusia lebih sempurna dari ciptaan lainnya, seperti ayam? Apa yang membedakan aku dengan ayam? Ya, ayam tidak bisa berpikir, aku bisa!

“Sudah selesai dek?” Ibuku mengusik lamunanku.

“Sudah bu, terimakasih untuk makanan pagi ini… :)” tukasku sembari beranjak dari tempat duduk dan mencuci piring.

“Kak, berangkat yuk…” teriakku ketika melihat sekelebat bayangan lelaki maskulin dengan aroma parfum yang katanya cowok bangettsss… tapi aku pakai juga. Hehe. Oh iya, perkenalkan, namaku Hani, dan kakakku yang agak ganteng dan metroseksual itu, Boby.

“Makan dulu donggg… Nanti kalo aku tidak konsentrasi menyetir motor gimana? Kalo aku tiba-tiba lapar dan makan motor dijalan gimana? Nanti kan kita jadi bingung mau naik apa kalo ke kampus… ” celotehnya, dia memang sama sepertiku suka berimajinasi.

“Kak kak, ayamnya enak nggak?” tanyaku tiba-tiba, ketika melihatnya sudah mengunyah suapan pertamanya.

“Kenapa emang? Aku bilangin Ibu lhooo…” deliknya.

Aku memandang dengan mata sedikit menyipit, “apaan sihh… kak, kakak pernah ngerasa seperti ayam nggak?”

Dia seperti sedang memutar mata, “emmmm gimana yuaaa… aku dulu reinkarnasi dari naga sih, jadi nggak pernah kepikiran jadi ayam, hehehehe. Kenapa? Kamu sudah dapat wangsit kalo dulu reinkarnasi ayam? Hmmm… enaaakkk…” dengan kunyahan yang sengaja dilambatkan.

“Tau akh, kakak ihhh… serius nihhh…” aku sedikit merengek.

“Ya, enggaklah ngapain! Repot amat mikir hidup si ayam, ayam aja nggak mikirin kita?” celetuknya.

“Ya, ngapain ayam mikirin kita… kan Tuhan bilang manusia adalah makhluk yang bisa berpikir, bukan binatang seperti mereka…” dengan nada sedikit sebal aku menanggapinya.

“Trus masalahnya?” pertanyaanya semakin terdengar menyebalkan.

“Sudah sudah, kalian ini pagi-pagi sudah berantem. Bob, cepat makannya ini sudah jam berapa… nanti kalian telat ke kampusnya…” lerai Ibu dari arah ruang tamu.

“Iya buuu…” kompak kami menjawab. Dan kakakku terkekeh-kekeh senang sekali melihatku cemberut di pagi hari begini.

Mahasiswa semester 1 sepertiku, yang kuliah di perguruan tinggi politeknik, memiliki satu matakuliah yang saat ini sedang aku ikuti. Matakuliah Agama. Ya meskipun beberapa teman mencibir, “masa udah kuliah masih ada pelajaran kek begini. Yang begini mah sekolah anak-anak SD sampe SMA” tapi ada juga yang menyanggah dengan kalimat yang menurutku lumayan keren, “pelajaran agama mah sah-sah aja buat SD sampe SMA atau bahkan kuliah kayak kita, pelajaran agama tuh seumur hidup. Agama itu buat tuntunan hidup. Kok kamu bisa ngomong gitu sih? Emang sekarang agama kamu udah bagus? Udah mahir? Udah expert? Buktiin ntar noh di surga!”. Hehehe, langsung ya, kata-katanya menohok.

Ya, aku juga setuju sih… pelajaran agama emang nggak berbatas sampe level mana aja, dimanapun kapanpun bisa belajar agama. Agama emang penting buat fondasi hidup, tanpa agama mungkin hidup seseorang akan terasa hampa. Tidak ada tempat keluh kesah, tidak ada tempat memohon, tidak ada tempat berbagi sesuatu yang tidak bisa dibagi dengan siapapun, orang tua, saudara, teman atau bahkan orang lain.

“Ya, minggu depan kita ada tes mengaji, saya harapkan kalian bisa mengaji tartil, dan juga memaknai arti dari surat tersebut… kalian dapat menentukan sendiri ayat/surat yang kalian baca, setiap orang tidak boleh sama.” Sepotong kalimat penutupan matakuliah ini diakhiri dengan pengumuman yang cukup cukup cukup menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s