Pelupa

terkadang menjadi pelupa itu terasa lebih baik daripada pendendam, namun suasana itu seakan kembali menyeruak tanpa di undang, desah nafas kecewa, mata memburu tajam, dan kalimat-kalimat yg langsung terurai di udara melesat seperti ribuan peluru yg membuatku patah hati seketika. merobohkan benteng pertahanan untuk tetap berpikir bahwa semuanya masih baik-baik saja. ahh aku ingin sekali lupa, tapi bahkan itu seperti terulang kembali hanya dengan satu kata yg ia tulis, “payah”. *mendung ketiga pagi hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s