Puisi Lama

Puisi berserakan dalam handphoneku yg mungil, handphone lama. Anynomous exact time, tapi aku tetap ingat setiap raut suasana baris per baris kalimat yang terurai… Terimakasih waktu, telah berjalan melangkah bersamaku…

  1. Memandang langit kosong dengan keramaian ilusi mata yang berkecamuk, seperti ingin memberontak, seperti ingin menyerah. Tapi kasihmu, cintamu, semangatmu, memberitauku untuk diam, menelaah dan mencari solusi, bukan mengutuk atau menyesali apapun.
  2. Diantara kaca yang tipis ada jarak dengan ribuan kilometer, tak sama seperti yang dilihat, tak sama seperti yang dirasa, mata dan rasa punya bahasa rahasia sendiri
  3. Rasa itu keputusan hati, dan jika ia telah dilogika-kan menjadi hambar dan takkan menjadi seperti semula. biarlah waktu yang akan membuat air keruh kembali menjadi bening dengan segala rintangannya
  4. ” sesaat dia datang, pesona bagai pangeran, dan beri kau harapan, bualan cinta dan masa depan. Dan kau lupakan aku, semua usahaku, semua pagi kita”, semua menjadi asing. Lalu apa?
  5. Langit, sendumu belum hilang dengan hujan yang turun sebegitu derasnya.
  6. The ‘magic’ just gone, then everything come back like before 🙂
  7. Mendung menghias sendu diatas langit. Raga terdiam lelah, duduk merapat dengan mata terpejam disudut. Jiwanya bermimpi melanglang tanpa batas, bergerak sesuka hati. Berdialog tanpa teks, bernyanyi tanpa lirik. Dan ketika matanya terbuka, kembali ia pada nyata. Ia hanya seseorang dengan teks dan lirik ditangannya…
  8. Nada itu menggema dalam ingatanmu sepanjang hari. Dan jika kau tak ingin ia kau lupakan begitu saja, nyatakanlah dalam tulisan. Tapi bagaimana bisa kau nyatakan nada, jika kamu tak mengerti not balok?
  9. Bahasa tubuh mengisyarakatkan hal yang sama, sedang bahasa hati menyusun kalimat berlogika tiada habisnya
  10. Mendung pagi telah menggantung, sejak dari pagi buta 3 jam yang lalu. Mataku perlahan turun melihat jemari, dengan bibir yang tak bereaksi. Tak ada senyum, hanya mata yang mulai berkaca, selinang air menetes. Lalu senyum itu tersungging
  11. Seorang bapak parobaya, berpakaian lusuh dengan sekumpulan krupuk di ujung tongkatnya. Diam termangu di balik kaca tempat makan elit yang aku singgahi. Kantongku kosong, akupun tak tega melihatnya. Raut wajah yang aku tidak tau menyiratkan apa, laparkah dia? | Seorang pemuda dengan kepekaan mata menjawab pertanyaanku dengan sebungkus nasi hangat | 19.11 seorang lelaki berjalan dengan dua bakul tanaman seimbang tergantung di tongkat, tersangga di bahu. Aku menyadari sosoknya saat ia berjalan menjauh dan hilang disebuah pertigaan jalan yang ramai
  12. Seorang kakek mengelupas selotip pada besi karatan dengan tinggi selutut. Berjongkok dengan ekspresi yang tidak dapat ku terka. Bapak kenapa?
  13. Seseorang yang tidak tau letak tempat sampah, dengan baju merah, berdiri di dalam toko komputer. Lelaki jubah hitam panjang dengan batang rokok disela bibir dan topi diatas kepala. Gadis lapar yan sedang memikirkan kucing lapar dirumah. Hore wait me, i’m home. Seorang ibu anak bapak, keluarga kecil yang berada di pinggir jalan, bapaknya mengayunkan jari menghentikan angkot. Hati-hati di jalan ya
  14. ” kalimat yang selalu diulang ” adalah cara jitu untuk mengerti, paham, dan bisa menerima. Terimakasih, kali ini aku lebih tau diri 🙂
  15. Jangan bicarakan janji, tanyakan cinta, atau bahkan kepastian pada hati yang terluka. Kau hanya akan mendengar ramainya air berjatuhan dari langit. Katakan saja semuanya pada Yang Maha Memiliki Hati, bukankah itu lebih menentramkan hatimu?
Iklan

Yuk Pilah Sampah!

Pilah sampah, organik dan non organik. Yang organik dibikin pupuk kompos dan wallaa… itu adalah kabar lama yang mungkin sudah bertahun-tahun lalu sudah dibahas berulang-ulang sama pakarnya melalui berbagai media informasi baik cetak maupun digital. Hanya saja, pagi kemarin saya tergerak untuk menulis artikel ini buat siapa? Saya sendiri sih, dan kalau mau, boleh juga buat orang-orang yang gak sengaja nyasar (ato bahkan saya yg sengaja menyasarkan mereka, hahahaha #ketawajahat).

Tapi dari pengamatan pribadi memang nggak banyak yang peduli dengan pilah sampah ini. Sampah itu identik sekali dengan sumber penyakit, bau, bikin banjir, dan bla bla bla (silahkan tambahkan sendiri, jika mau). Kenapa coba bau? Karena sampah organiknya busuk, nggak di olah, kecampur sama sampah non organik jadinya makin gak bisa di olah, ujung-ujungnya dibakar dan bikin polusi udara. Tapi ada juga yang nggak dibakar dan ngandelin si tukang bersih (akan lebih etis disebut begini daripada tukang sampah) buat ngangkut tiap hari sampah dari kampung ke kampung.

Salut buat kota Bandung yang udah nerapin peraturan daerah tentang buang sampah, semoga daerah-daerah lainnya juga bisa nyusul biar “pengendalian” sampah bisa dilakukan sejak dini. Tapi sayangnya ya gitu, beberapa area publik tempat sampah disediakan secara “single” jadinya yang nyampah nggak pake milah, alhasil nyampurlah itu sampah. Tapi juga nggak cuma itu, ada juga sampah “double” (organik dan non organik) yang udah jelas-jelas beda tulisan, gambar, dan warna masih ada aja yg nggak bisa milah. Milah sampah (ini menurut saya pribadi) PENTING lho, kenapa? Karena dengan milah begini kita bisa fokus ngolah sampahnya. Baca lebih lanjut