Yuk Pilah Sampah!

Pilah sampah, organik dan non organik. Yang organik dibikin pupuk kompos dan wallaa… itu adalah kabar lama yang mungkin sudah bertahun-tahun lalu sudah dibahas berulang-ulang sama pakarnya melalui berbagai media informasi baik cetak maupun digital. Hanya saja, pagi kemarin saya tergerak untuk menulis artikel ini buat siapa? Saya sendiri sih, dan kalau mau, boleh juga buat orang-orang yang gak sengaja nyasar (ato bahkan saya yg sengaja menyasarkan mereka, hahahaha #ketawajahat).

Tapi dari pengamatan pribadi memang nggak banyak yang peduli dengan pilah sampah ini. Sampah itu identik sekali dengan sumber penyakit, bau, bikin banjir, dan bla bla bla (silahkan tambahkan sendiri, jika mau). Kenapa coba bau? Karena sampah organiknya busuk, nggak di olah, kecampur sama sampah non organik jadinya makin gak bisa di olah, ujung-ujungnya dibakar dan bikin polusi udara. Tapi ada juga yang nggak dibakar dan ngandelin si tukang bersih (akan lebih etis disebut begini daripada tukang sampah) buat ngangkut tiap hari sampah dari kampung ke kampung.

Salut buat kota Bandung yang udah nerapin peraturan daerah tentang buang sampah, semoga daerah-daerah lainnya juga bisa nyusul biar “pengendalian” sampah bisa dilakukan sejak dini. Tapi sayangnya ya gitu, beberapa area publik tempat sampah disediakan secara “single” jadinya yang nyampah nggak pake milah, alhasil nyampurlah itu sampah. Tapi juga nggak cuma itu, ada juga sampah “double” (organik dan non organik) yang udah jelas-jelas beda tulisan, gambar, dan warna masih ada aja yg nggak bisa milah. Milah sampah (ini menurut saya pribadi) PENTING lho, kenapa? Karena dengan milah begini kita bisa fokus ngolah sampahnya.

Yang organik bisa jadi bikin pupuk, yang non-organik jadi bisa masuk bank sampah. Coba kalo nyampur? Mau milahnya? Pasti udah ogah-ogahan deh… Karena itulah, sepertinya memang perlu sebuah event sosialisasi pada masyarakat agar dapat memilah sampah dan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan, bukan jadi momok sarang penyakit, atau bahkan banjir. Jadi masyarakat juga bisa diajak nabung di bank sampah buat mengolah sampah non organiknya (Link tentang bank sampah). Sedangkan kalo sampah organic, perlu pemahaman pada masing-masing keluarga atau rumah diberikan wawasan bagaimana mengolah pupuk melalui sampah organic (Link sampah organik jadi pupuk). Pengenalan pupuk kompos dari sampah organik ini juga bisa dijadikan sebagai penyemangat masing-masing keluarga untuk membuat sebuah kebun kecil yang minimal berisi bumbu dapur. Bukankah akan lebih sehat kalau tanam sendiri? Pake bangga pula, karena sudah sabar nunggu dia tumbuh besar lalu di makan bersama-sama keluarga. Dengan begitu, sampah organik beralih fungsi menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

Tapi kalau memang seandainya masih ada saja keluarga yang tidak menghendaki pembuatan sampah organik menjadi pupuk, perlu ditegaskan bahwa membuang sampah harus di pilah organik dan non organik. Karena dengan memisahkan dua jenis sampah tersebut, orang lain dapat menggunakan sampah tersebut (jika mau) atau setidaknya membuat tukang-bersih menjadi lebih “manusiawi” untuk melakukan pekerjaannya. Bukankah meringankan pekerjaan orang lain merupakan salah satu kebaikan? Yaaaa… baik sedikit-sedikit semoga nanti jadi gunung buat bekal di surga, kan lumayan toh? Hanya Allah, yang tau.

Dan kalaupun seandainya akhirnya setiap keluarga dapat melakukan pemilahan dan pengolahan sampah (seperti yang diharapkan), tentu saja ini tidak mengancam eksistensi (cieh) tukang bersih. Tukang bersih tetap akan eksis membantu melayani masyarakat, entah itu menjadi tukang sapu di jalan, atau bahkan melayani keluarga-keluarga yang sudah setuju memilah sampah tapi tidak mau mengolah. Saya pribadi berpikir, setiap orang HARUS memilah sampah tanpa ada penawaran lagi. Kenapa? Coba bayangkan Anda sendiri jadi tukang bersih, yang setiap hari (mungkin) harus keliling beberapa kampung untuk ngambil sampah yang ternyata sudah beberapa hari yang lalu (karena hari sebelumnya giliran kampung yang lain) dimana sampahnya sudah bau, apalagi berair, orang yang lewat aja jijik, apalagi yang ngejalanin? Yang punya pekerjaan buat melayani kenyamanan masyarakat agar tetap bersih dan nyaman. Ini bukan masalah “job-desc” lho ya… tapi setidaknya kita menghargai peran tukang bersih buat kita, syukur banget kan dia dateng buat ngangkut sampah kita? Coba kalo dia nggak dateng? Apa kita bakal bilang “Udah bayar iuran sampah, kok nggak diangkut-angkut sih?” efek dari risih sampah bau nggak dipilah dan akhirnya nggak bisa ngatasin sendiri? Jadi membutuhkan orang lain buat ngatasin. Sayangnya, kalo kita berada diposisi “orang yg dibutuhkan buat ngatasin” jijik karena kondisi sampah yg tercampur dan membusuk?!

Semoga dari sini dapat dimengerti maksudku apa. Intinya, dengan milah sampah kita nggak cuma bantu tukang bersih buat melakukan pekerjaannya dengan mudah, tapi kita juga jadi nggak takut lagi sama bau busuk sampah (karena sudah dipilah) yang bikin penyakit. Yuk Pilah Sampah!🙂

*terinspirasi dari tukang bersih pondok cabe pagi-pagi, maaf pak gak bisa bantu apa-apa… tapi semoga tulisan ini nggak cuma teks tanpa makna, atau bahkan semoga semua orang yang melihat tukang bersih punya ide dan keinginan yang sama denganku. Semoga segera terealisasi, entah dengan bagaimana Allah membantu. Dan yang paling penting, akunya sendiri semoga jadi lebih konsisten buat milah sampah dan mengolahnya. SEMANGAT Indonesia Sehat! Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s