Perantau Kecil dari Papua

Ini bukan tentang perjalananku, tapi tentang awal perjalanan mereka. Aku hanya salah satu orang yang terlibat didalamnya, turut serta dan bersyukur karena telah terlibat meski dalam lingkup yang kecil. Melihat dengan mata terbuka, menajamkan rasa dalam diri, dan menyunggingkan senyum disetiap momen yang ada.
Mereka adalah murid lulusan SMP tahun ini, seragam biru putih mereka kenakan selama 3 hari yang lalu selama mengikuti pembekalan kegiatan. Mereka adalah anak negeri dari Timur, Papua, tanah yang sangat kaya akan sumber daya alam, tanah yang makmur, namun belum diimbangi dengan sumber daya manusia yang mencukupi. Karena itulah mereka disini, berada diruangan itu dengan seragam biru putih yang tertambat dengan rapi, meski sedikit lusuh karena mereka hanya punya itu, mereka harapan Papua, mereka generasi Papua.
Tujuh puluh delapan orang siswa SMP dari 6 kabupaten (kabupaten Biak Numfor, kabupaten Supiori, kabupaten Intan Jaya, kabupaten Paniai, dan kabupaten Yapen) akan disebar ke 14 sekolah di Jawa Tengah yang telah dipilih oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Menengah Kemdikbud. Mereka disekolahkan, mereka dibina, mereka dilatih, untuk menjadi motor sumber daya manusia di Papua. Ini program pemerintah untuk mencapai pendidikan secara merata *applause*.
Ya, mereka perantau kecil, lulusan SMP yang akan melanjutkan pendidikan di kota Semarang. Mereka akan sangat jauh dari orang tua, mereka akan jauh dari siapapun, mereka akan merantau, mereka akan hidup di tanah orang, mereka akan bertemu banyak orang asing, sedikit wajah takut dalam raut mereka mengalahkan semangat mereka untuk menuntut ilmu. Lagu-lagu daerah dari setiap kelompok kabupaten turut serta menambah kental makna suasana malam itu.
Tangis mengumbar lirih di Bandara Frans Kaisiepo, anak-anak kecil yang dilepaskan orang tuanya. Orang tua yang harus rela demi kebaikan tanah mereka. Orang tua yang dengan harapan besar berharap anaknya kembali *itu saja*. Selebihnya, semoga Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk kembali dengan membawa kebanggaan besar bagi orang tua dan tanah mereka.
Aku, yang hanya sebagai pendamping mereka selama 2 hari di Biak, dan 2 hari di Semarang, ikut terenyuh dan khidmat memaknai setiap nuansa yang tertera. Sungguh, ketika aku melihat mereka, senyum tulus mereka, tatapan dengan mata berkilat, membuatku jatuh cinta dengan instan. Berharap ikut merangkul mereka, bersyukur karena telah hadir diantara mereka. Meskipun hanya sebagai pendamping yang mengantarkan mereka dari Biak ke Semarang dengan lengkap *sudah itu saja*. Aku memang tidak banyak mengobrol dengan mereka, mungkin hanya beberapa orang saja.
Riuh ramai cercaan dari orang-orang yg tidak tau diluarsana, tentang mereka, tentang tanah mereka yang belum memiliki manusia-manusia super yang sering dikatakan orang. Siapa yang butuh manusia super? Negeri ini hanya butuh anak-anak yang mau belajar, mau mengabdikan diri untuk negara, mau turut serta bersama pemerintah menjunjung Indonesia, membersihkan Indonesia dari dosa-dosa tabiat pemimpin yang telah lalu, pemimpin yang belum mewariskan nilai-nilai paling penting untuk jantung Indonesia, pemimpin yang telah berusaha keras menjunjung Indonesia namun entah dengan cara yang bagaimana.
Anak Papua BISA! Bisa berubah menjadi anak-anak cerdas, anak-anak aktif, anak-anak mandiri, anak-anak berprestasi, anak-anak bersih, anak-anak sehat, dan semuanya. Semua itu adalah hak setiap orang di dunia ini, berapapun usianya. Apalagi mereka, anak yang baru akan menduduki bangku Sekolah Menengah Atas. Kalian BISA! Aku akan selalu berdo’a *dengan-caraku* agar Tuhanku, Allah, memberikan ridho kepada kalian untuk bisa turut serta membuat Indonesia lebih gemilang. Kalian memiliki peran disini, kalian adalah motor-motor penggerak yang diharapkan tanah Papua yang sedang merintih *kau-tau-kenapa*.
Akhir kata, senang sekali bertemu dengan kalian, bersama kalian, meskipun tidak semua bisa aku kenali, tidak semua mengenaliku, dan perkenalan kita hanya singkat dan kurang interaksi *karena aku mayorita mengurusi administrasi data*. Tapi aku selalu berharap, suatu hari nanti kita akan bertemu dalam keadaan yang lebih baik dari saat ini. Semangat anak-anak Papua!
*kegiatan Serah Terima Siswa Afirmasi Pendidkan Menengah (ADEM) Papua dan Papua Barat Angkatan ke 2 Tahun 2014. Tanggal 25 – 29 Juni 2014
*Jakarta Makasar Biak. Biak Makasar Jakarta Semarang
*lakukanygkamusukai

Iklan

Hidup, Tumbang, dan Berganti. Lalu apa?

Sebelumnya mungkin aku pernah melihatnya, dalam ingatanku dia terlihat baik-baik saja sama seperti yang lainnya. Aku tidak begitu mengingatnya, karena dia terlihat tidak istimewa dimataku. Ya, memang, aku sama seperti yang lainnya. Berlalu lalang didepannya, melihatnya sepintas, atau melihatnya lebih lama tapi tidak mengamati dan memaknai kehadirannya.

Hingga hari itu aku melihatnya terlihat berbeda dari yang lainnya. Saat itulah aku mendapatkan pandanganku mulai memaknai kehadirannya. Dia yang selalu berada di ujung jalan bersama sederetan teman-temannya. Dia yang juga seperti aku, hidup di atas bumi ini bersama orang-orang lainnya.

Seperti yang kusebutkan sebelumnya, hari itu dia berbeda. Paling berbeda diantara teman-temannya kali itu. Sebenarnya dia hanya diam berdiri ditempatnya, sama seperti sebelumnya, hanya saja kali ini dia terlihat hampa. Tak nampak lagi keceriaan dalam raganya, sama sekali. Auranya terlihat melemah, apa yang dia banggakan seperti lenyap, dia tak lagi bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan bersama teman-temannya, dari sinar jiwanya terpancar sebuah kalimat pekat “aku hanya cukup berdiri dan diam, itu sudah cukup.” Hampa.  Baca lebih lanjut

Belajar Bahasa, Belajar Berkata

Yap, problem utama dari seseorang (seperti diriku ini) adalah berkata-kata. Akan lebih mengalir apabila berada dibalik keyboard, atau pena dan pensil (ya, setidaknya lebih baik) dari pada berdiri didepan beberapa orang yang sangat siap mendengarkan informasi yang penting. Kadang acakadul, kadang meracau, kadang nggak tertata, dan bla bla bla, berbagai paket rentetan lain yang berhubungan dengan public-speaking.

Ya, disamping sudah memahami bahwa berkata-kata itu sangat penting, ada juga utusan dari dewa langit (aka. bos-kantor) buat bikin conversation bahasa asing, setiap hari selama hari aktif, dan yang tentunya pasti akan sangat berdampak positif dengan keluwesan berbahasa, ya meski sementara ngomong sendiri dulu lah.

Ini ada 2 video yang sudah dibuat, video amatir yang sangat disarankan untuk… ya menontonnya sebentar boleh lah, tapi sebentar saja ya… jangan lama-lama, nanti sakit mata, sakit telinga, bisa masuk rumah sehat :v

Cipratan Hujan

Belakangan hari hujan memang turun, sering, lebih sering, sangat sering, agak sering, tapi hari ini menjadi mendung. Sebenarnya artikel ini bukan tentang main hujan-hujanan, tapi maknanya tidak jauh dari makna sebenarnya. Ya, kalau dilihat-lihat dari postingan blog ini sebelumnya, memang mayoritas adalah tugas, selebihnya adalah beberapa chapter buku yang terpisah dan sampai saat ini belum habis terbaca *dontaskme,idontknowwhyhow. Mungkin ada faktor kesengajaan dari penulis (yaitu aku sendiri, hallah -_-) untuk sembunyi dibalik ranting-ranting bambu, hanya saja. Sejak di suatu siang yang lumayan cerah, dalam perjalanan menuju tempat yang sudah setahun yang lalu kaki ini berpijak, ada sebuah udara berbeda yang kehirup di hidung (apasih, tapi that’s true loh). Ya bukan udara beraroma lho yaa, hanya udara netral seperti biasa tapi bisa membuat syaraf otak ini seperti terkena cipratan hujan (inilahmaksud-judulartikelini!). Apakah itu? Kesadaran!

Sudah terasa sangat lama sekali aku tidak pernah menulis, menggambar, mewarnai, dan melakukan hal-hal yang disukai. Setelah di flash back, yang dilakukan setahun (agak lebih mungkin) kemarin adalah just do, without feeling. Ya, cuman jalanin hidup aja. Slow with the flow like jellow, tapi sayangnya buat hidupku sepertinya kurang [nggeh]. Kehilangan diri sendiri, kehilangan kesadaran (bukan pingsan), ini memang aneh. Ada sebuah percakapan film yang bilang begini, “… dan ketika aku bermimpi dengan mata terbuka …”. Kalimat itu cukup lama untuk bisa dicerna, intinya adalah apa yang dilihat tidak benar-benar bisa dipahami, seperti ilusi, seperti khayalan, seperti mimpi. Apa yang di tangan seperti tidak benar-benar disentuh, apa yang di genggam seperti tidak memiliki sebuah arti apa-apa. Padahal nyata adalah apa yang bisa disentuh dan digenggam

Bagaimana mungkin kamu tidak hidup dalam mimpi jika semua orang disekitarmu mulai meramalkan apa yang akan terjadi padamu. Mereka sangat optimis dengan terus meneriakkan kalimat-kalimat ghaib tentangmu, mimpi yang pasti akan tercapai, bahkan tersadar bahwa semua yang mereka katakan adalah harapan besar yang harus dipikul. Beberapa motivator mengatakan yang intinya adalah, “ketika semua orang percaya padamu, apakah masih ada alasan bagimu untuk tidak percaya pada dirimu sendiri?” kalimat ini sangat melekat sepanjang hari-hariku di tahun lalu. Dan apa yang aku putuskan? Aku menjalaninya, hanya itu. Aku mengikuti arus, aku melihat sekitar, aku diam, aku pasif, aku beradaptasi, aku meraba tembok, lantai, dan mungkin apa yang ada diatas kepalaku. Terlalu lama? hingga menghabiskan waktu setahun, biar saja! Ada yang bilang padaku, “Nggak papa lama, karena itu emang proses!”

Sebelum setahun lalu adalah waktu yang sangat disyukuri sepanjang hidupku, air mata bangga wanita yang paling aku cintai, ibuku, berlinang. Hanya itulah alasanku, selama setahun yang lalu tidak memberontak untuk berdiri dengan tanpa rasa. Rasa yang baru saat ini tersadar bahwa inilah saatnya aku kembali menulis, menggambar, mewarnai, dan melakukan apapun. Telat? siapa bilang? Hhhh, berisik.

Dan yang pasti, ini tidak akan pernah terjadi tanpa kehendakNya, Tuhanku satu, Allah subhanallah wa ta’ala… Dia-lah tempatku kembali, setelah sekian lama jiwa mencari makna, memang hanya Dia-lah penerangku. Terimakasih untuk sahabat-sahabatku yang juga ikut serta membantuku berlari mengejar cintaNya, ridhoNya, kasihNya, dan damaiNya… Semoga jalinan ukhuwah kita akan selalu terjaga, dan semoga Allah, Tuhan kita, akan selalu memberikan petunjuk dan bimbingan pada kita 🙂

Akhir kata, ku ulas senyuman ikhlas dibalik layar dan deretan keyboard, semoga tulisan ini bermanfaat. Salam, Sukeipah.