Tarif Hemat Ngebis Jakarta Bandung | Bandung Jakarta

Yak… setelah hampir 2 tahun setengah berada diantara kota ini, Jakarta dan Bandung. Baru akhir-akhir ini bener-bener mikir gimana caranya ngehemat tarif buat PP, yaaa selain kantong mahasiswa, duitnya kalo dipikir2 bisa buat yang lain. Ini pengalaman baru cetek sih, tapi lumayan lah buat share pengalaman, ini penting! karena aku juga taunya dari orang2 yg mau share. Yaaa intinya semoga artikelnya bisa bermanfaat saja ya…

Dari Lebak Bulus (Jakarta) ke Dago (Bandung)

  1. Naek bis Primajasa jurusan Tasik/Garut via Ps. Rebo. nanti turun Moh. Toha di Km. 140 (bahu jalan tol) bayarnya sekitar 38rb
  2. Dari tempat diturunin bis, ada jalan turunan. sebenernya bukan jalan beneran sih, tapi menjadi jalan karena sudah banyak orang yg lewat. Jalan turunan itu nanti ngarah ke jalan raya, naik angkot Kalapa – Kolot (atau angkot apapun yg mengarah ke Kalapa) tanya dulu ke supirnya, buat mastiin, bayar sekitar 4rb
  3. Dari Kalapa, silahkan nyari angkot kemanapun yg mau dituju. Kalo akusih biasanya ke arah Dago, jadi naik Kalapa – Dago, bayar sekitar 5rb
    Jadi total biaya 38+9 = 47rb

Dari Dipati Ukur (Bandung) ke Lebak Bulus (Jakarta)

  1. Naek bis Damri ke arah Jatinangor, turun di bahu jalan setelah Tol Cileunyi, bayarnya sekitar 7rb
  2. Dari bahu jalan Tol Cileunyi, nyebrang ke arah pertigaan jalan sebelah kanan (you know what i mean, kalo udah nyampe sana). Nah, dari sini naik bis Primajasa Tasik/Garut ke Lebak Bulus. Biasanya sih udah penuh, tapi untung-untungan kalo masih dapet tempat duduk, bayar sekitar 38rb. Tapi inget, dapet tempat duduk atopun enggak, tujuannya cuma satu, nyampe Jakarta. Hahahahaha, jadi sabar-sabar ya…
    Jadi total biaya 7+38 = 45rb

Waw waw, bisa keitung tuh total biaya bolak balik nggak nyampe 100 rb, bahkan masih balik 8rb. Hehehehe lumayanlah dibanding naik travel ato naik bis yg langsung menuju bandung/jakarta meskipun tujuannya sama-sama yang rata-rata (sekarang) sekali naek harganya sekitar 60rb keatas bandung/jakarta. Nahh itulah kenapa, info kayak gini nih penting! yaaa karena ini termasuk salah satu trik buat menyiasati kantong. Bukan berarti kikir lho ya, kalo ada yg bisa murah ngapain cari yg mahal? padahal sama aja lokasi tujuannya. Selain dari segi keuangan, dari segi waktu juga hampir mirip kok… so apalagi? oh iya, kalo kamu ada cara lebih murah, jangan lupa share juga ya… tentunya dengan estimasi waktu yg kalo bisa lebih singkat, hehehehehe :v

Sekian dari saya, terimakasih telah nyasar kesini *ups.

NB : buat yg ngerasa cewe (seperti aku), usahakan untuk berangkat PAGI! kenapa? karena kalo berangkat sore, nanti nyampenya malam, dan malam itu sangat retan buat cewe (apalagi kalo jalan sendirian, karena aku sering jalan sendirian sih hahahaha). meskipun udah bawa spray mata, gunting, kater, ato apapun buat melindungi diri, kita tetap harus bisa menyesuaikan waktu-waktu aman buat bepergian.

at least SEMANGAT! dan semoga selamat sampai tujuan ya guys… 🙂

The Second Chance in Jambi

ketemu lagi dg akhir tahun, bertemu lagi dg bulan desember. tahun lalu dapat kesempatan maen keluar negeri. hari ini diberi kesempatan juga kali ke dua ke provisi jambi. belum tau hotelnya nanti bakal dimana, naek apa aja ke sekolah dengan budget mengikat hhaha. aku yakin pasti seru, ak g kenal jambi, ini saatnya melancong sendiri 😀 “ayo berpetualang!” seru dalam dada meletup2, itulah yg aku pikirkan sebelum sampai di daratan jambi huahaha gila memang, gila sekali. memang ya, anak muda sepertiku ini tidak akan percaya kalau belum melakoni sendiri. ngotot sama pemikiran konyol sendiri, tanpa pertimbangan matang.
akhirnya, 2 hari di jambi cukuplah buat pelajaran, kalau ke lapangan sangat perlu observasi, persiapan, pemantapan fokus disana. that’s it “rasakno” kalo kata orang jawa. sebenernya agak malu juga sih ngepost begini. tapi nggak masalah, that’s me and i’ll fix it.
hari pertama, pertimbangannya ak ada di hotel yg dkt pul bis travel buat ke merangin, daerah tujuan paling jauh yg akan mmaksaku pulang larut malam. jd tmpt inap yg dekat akan sangat mmbantu. jadi pas turun dr bandara, lgsg cus naik taksi ke pul bis family raya. tp ak ttp blg mau cari hotel skitar sana. bapaknya ok, dan rekomen hotel bintang tigaan mgkn, hotel nusa wijaya. daaann full, terus bpknya udh pergi. akhirnya nanya ojek dan brgkt cari laen, sblh nusa wijaya sbnrnya ada hotel marissa, bintang satu. tp mau coba cari lain lagi yg mgkn bintangnya setara nusa wijayalah… bukannya apa2, pernah ad pengalaman seram di pnginapan, jd milah milah wajarlah. setelah 2 hotel lain, akhirnya mutusin nginep di hotel marissa. dg pertimbangan, tinggal jalan 200 meter ke pull bis drpd 2 hotel yg lain.
after that mulai kerja dengan ke dinas pendidikan kota Jambi (1 km dr hotel), sekolah SLB Sri Soedewi (3 km dr dinas), dan lanjut SLB Muaro Bungo (15 km dr sekolah sblmnya). dan semua akomodasi itu mghabiskan 300 ribu uang taksi, inilahhh… ak asal comot nomor taksi rekomendasi hotel gak pake cari taksi mana yg murah :3 . dan si bapak taksi smgat sekali cari rejeki, jadi aku dibawa kmn tmpt bagus dan poto cumaaannn ak kira sejalan dg arah ke hotel, eh dianya… 😦 si bapaaakk huaa, uang transport lokal di jatah 500 doang. masa gaji sedikit juga di korbanin sich? anak kos mamen… akhirnya ak mnt di turunin di pull aja sekalian pesen tiket bt ke merangin.
lega pas udh nympe hotel, lgsg istirahat beuhhh… capek bgt, cz dr jakarta spulang kantor sampe gni hari sekitar jam 4 sore tidur cuma dua jam itupun di pesawat :v . sorenya abis magrib msh bisa ketemu senjanya jambi.

image

Baca lebih lanjut

Dari Poltekom ke Gajah Bandung

Sukeipah Yuli Prihatin, adalah rangkaian dari 3 kata yang dikenal orang-orang sekitarku sebagai namaku. Perjuanganku dimulai sejak tahun 2009, tahun kelulusanku sebagai salah satu dari 5 siswa terbaik SMK PGRI 3 Kota Malang. Berbekal background prestasi yang tak seberapa dari sana, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi diploma 3 di Politeknik Kota Malang (Poltekom) menjadi langkah baru saya. Pada tahun yang sama, saya resmi menjadi salah satu mahasiswa angkatan ke dua perguruan tinggi yang terbilang baru berdiri ini.

Mengingat latar belakang keluarga saya dari kalangan menengah kebawah, Poltekom memberikan bantuan biaya pendidikan secara penuh. Segala dukungan dari pihak keluarga maupun warga Poltekom mengantarkan saya menjadi lebih bersemangat untuk menunaikan tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa baik dari segi akademis maupun karakter. Setiap pagi saya harus menempuh 1 jam perjalanan menggunakan transportasi umum dan 15 menit berjalan kaki untuk dapat sampai di kampus yang letaknya saat itu masih cukup jauh dari perkotaan. Tidak jarang terkadang teman-teman kampus, staff atau bahkan dosen yang sedang melintas di pagi hari memberi bantuan tumpangan pada saya.

Poltekom memiliki sistem yang menuntut kedisiplinan sangat tinggi, hampir mirip dengan sistem yang diterapkan di SMK PGRI 3. Terdapat perhitungan menit terlambat yang dapat diberikan sanksi berupa surat lisan atau surat tertulis, dengan level 1 hingga 3 sesuai dengan beban kesalahan yang dilakukan mahasiswa. Alhamdulillah, dengan sebagai lulusan siswa SMK yang tidak jauh berbeda dengan Poltekom, saya dapat mengikuti ritme peraturan sistem dengan baik. Pengalaman paling berkesan, adalah ketika saya melaksanakan kegiatan praktek kerja industri tahun kedua (atau saat semester akhir, semester 6), dimana saya mengikuti kegiatan Malang Go Open Source serta menjadi salah satu asisten dosen untuk kelas ekstensi maupun reguler. Disana saya lebih banyak belajar bagaimana menjadi seorang yang melayani masyarakat dengan membagi sedikit ilmu yang saya ketahui agar orang lain mendapatkan manfaat dari ilmu yang telah saya peroleh.

Akhir Juni 2012, pertengahan jadwal kegiatan praktek kerja industri, Poltekom merekomendasikan saya untuk turut serta dalam program alih jenjang diploma 4 di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan beasiswa setengah dari biaya pendidikan apabila IPK diatas 3,25. Hingga akhirnya 6 Juli 2012, sebuah pengumuman penerimaan beasiswa program alih jenjang diploma 4 dipublikasikan, saya menjadi salah satu mahasiswa yang diterima sebagai angkatan ke 6. Kekhawatiran masih terbersit dalam benak saya, selain beasiswa yang hanya setengah, bagaimana nanti dengan biaya hidup saya? Dengan segala kemurahan hati Yang Maha Kuasa dan harapan mulia dari Direktur Poltekom saat itu dengan Direktur SEAMOLEC (selaku pelaksana program alih jenjang diploma 4), akhirnya saya mendapatkan beasiswa pendidikan penuh. Sedangkan biaya hidup, 3 bulan pertama saya mendapatkan bantuan dari Poltekom, selanjutnya saya dan keluarga berjuang bersama-sama, beberapa keping uang saya dapatkan dengan merintis wirausaha kecil berjualan kue di kelas saat melaksanakan kuliah dan beberapa keping lainnya dari keringat peluh orang tua saya di Malang.

Proses pendidikan program alih jenjang ini memang tidak langsung diarahkan ke kampus ITB, selama 3 bulan kami di ‘gembleng’ atau dengan kata lain melaksanakan kegiatan matrikulasi di SEAMOLEC sebagai penyelenggara program. Kegiatan ini bertujuan untuk menyetarakan pengetahuan setiap mahasiswa yang telah diterima sebagai bekal untuk dapat mengikuti ritme perkuliahan yang diterapkan di ITB.

November 2012, tepatnya tanggal 14, merupakan hari kelulusan saya sebagai salah satu mahasiswa Poltekom. Tiga tahun pendidikan yang telah saya lalui sebagai mahasiswa Poltekom ditebus dengan air mata kebahagiaan dari Ibu saya, saya menjadi salah satu lulusan terbaik saat itu. Kebahagiaan yang lebih berharga dari seorang anak seperti saya, adalah melihat orang tua saya bangga memiliki saya. Dan kebahagiaan ini tentu saja atas karunia Tuhanku satu, Allah, dan juga banyak orang-orang yang selalu mendukung saya dari berbagai aspek, terutama keluarga, dan banyak orang-orang lainnya termasuk teman-teman, staff, dosen, serta segenap warga Poltekom. Terimakasih Poltekom J

Tidak sampai disitu saja, perjuangan saya berlanjut dengan berjuang hidup di Gajahnya Bandung, ITB. Tetap dengan berjualan kue di kelas untuk menekan beban keringat peluh orang tua. Disela-sela itu selama 6 bulan praktek kerja industri, saya mendapatkan honor sehingga sedikit mengurangi beban orang tua. Oktober 2013, saya akhirnya berhasil melaksanakan sidang tugas akhir dengan kepastian lulus, Alhamdulillah. Rasa syukur yang tidak pernah berhenti, tidak lama setelah penerimaan nilai transkrip dan surat keterangan lulus, saya kembali mendapatkan rekomendasi untuk mengikuti program pendidikan Perkuliahan Jarak Jauh Magister Teknologi Media Digital dan Game di ITB. Januari 2014, saya resmi diterima dan mengikuti perkuliahan semester 1 hingga saat ini. Sekali lagi, terimakasih Poltekom, mengantarkan peluang pendidikan saya hingga sejauh ini.

Perantau Kecil dari Papua

Ini bukan tentang perjalananku, tapi tentang awal perjalanan mereka. Aku hanya salah satu orang yang terlibat didalamnya, turut serta dan bersyukur karena telah terlibat meski dalam lingkup yang kecil. Melihat dengan mata terbuka, menajamkan rasa dalam diri, dan menyunggingkan senyum disetiap momen yang ada.
Mereka adalah murid lulusan SMP tahun ini, seragam biru putih mereka kenakan selama 3 hari yang lalu selama mengikuti pembekalan kegiatan. Mereka adalah anak negeri dari Timur, Papua, tanah yang sangat kaya akan sumber daya alam, tanah yang makmur, namun belum diimbangi dengan sumber daya manusia yang mencukupi. Karena itulah mereka disini, berada diruangan itu dengan seragam biru putih yang tertambat dengan rapi, meski sedikit lusuh karena mereka hanya punya itu, mereka harapan Papua, mereka generasi Papua.
Tujuh puluh delapan orang siswa SMP dari 6 kabupaten (kabupaten Biak Numfor, kabupaten Supiori, kabupaten Intan Jaya, kabupaten Paniai, dan kabupaten Yapen) akan disebar ke 14 sekolah di Jawa Tengah yang telah dipilih oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Menengah Kemdikbud. Mereka disekolahkan, mereka dibina, mereka dilatih, untuk menjadi motor sumber daya manusia di Papua. Ini program pemerintah untuk mencapai pendidikan secara merata *applause*.
Ya, mereka perantau kecil, lulusan SMP yang akan melanjutkan pendidikan di kota Semarang. Mereka akan sangat jauh dari orang tua, mereka akan jauh dari siapapun, mereka akan merantau, mereka akan hidup di tanah orang, mereka akan bertemu banyak orang asing, sedikit wajah takut dalam raut mereka mengalahkan semangat mereka untuk menuntut ilmu. Lagu-lagu daerah dari setiap kelompok kabupaten turut serta menambah kental makna suasana malam itu.
Tangis mengumbar lirih di Bandara Frans Kaisiepo, anak-anak kecil yang dilepaskan orang tuanya. Orang tua yang harus rela demi kebaikan tanah mereka. Orang tua yang dengan harapan besar berharap anaknya kembali *itu saja*. Selebihnya, semoga Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk kembali dengan membawa kebanggaan besar bagi orang tua dan tanah mereka.
Aku, yang hanya sebagai pendamping mereka selama 2 hari di Biak, dan 2 hari di Semarang, ikut terenyuh dan khidmat memaknai setiap nuansa yang tertera. Sungguh, ketika aku melihat mereka, senyum tulus mereka, tatapan dengan mata berkilat, membuatku jatuh cinta dengan instan. Berharap ikut merangkul mereka, bersyukur karena telah hadir diantara mereka. Meskipun hanya sebagai pendamping yang mengantarkan mereka dari Biak ke Semarang dengan lengkap *sudah itu saja*. Aku memang tidak banyak mengobrol dengan mereka, mungkin hanya beberapa orang saja.
Riuh ramai cercaan dari orang-orang yg tidak tau diluarsana, tentang mereka, tentang tanah mereka yang belum memiliki manusia-manusia super yang sering dikatakan orang. Siapa yang butuh manusia super? Negeri ini hanya butuh anak-anak yang mau belajar, mau mengabdikan diri untuk negara, mau turut serta bersama pemerintah menjunjung Indonesia, membersihkan Indonesia dari dosa-dosa tabiat pemimpin yang telah lalu, pemimpin yang belum mewariskan nilai-nilai paling penting untuk jantung Indonesia, pemimpin yang telah berusaha keras menjunjung Indonesia namun entah dengan cara yang bagaimana.
Anak Papua BISA! Bisa berubah menjadi anak-anak cerdas, anak-anak aktif, anak-anak mandiri, anak-anak berprestasi, anak-anak bersih, anak-anak sehat, dan semuanya. Semua itu adalah hak setiap orang di dunia ini, berapapun usianya. Apalagi mereka, anak yang baru akan menduduki bangku Sekolah Menengah Atas. Kalian BISA! Aku akan selalu berdo’a *dengan-caraku* agar Tuhanku, Allah, memberikan ridho kepada kalian untuk bisa turut serta membuat Indonesia lebih gemilang. Kalian memiliki peran disini, kalian adalah motor-motor penggerak yang diharapkan tanah Papua yang sedang merintih *kau-tau-kenapa*.
Akhir kata, senang sekali bertemu dengan kalian, bersama kalian, meskipun tidak semua bisa aku kenali, tidak semua mengenaliku, dan perkenalan kita hanya singkat dan kurang interaksi *karena aku mayorita mengurusi administrasi data*. Tapi aku selalu berharap, suatu hari nanti kita akan bertemu dalam keadaan yang lebih baik dari saat ini. Semangat anak-anak Papua!
*kegiatan Serah Terima Siswa Afirmasi Pendidkan Menengah (ADEM) Papua dan Papua Barat Angkatan ke 2 Tahun 2014. Tanggal 25 – 29 Juni 2014
*Jakarta Makasar Biak. Biak Makasar Jakarta Semarang
*lakukanygkamusukai