Salah Satu Hujan Bulan Maret :)

Tadinya sudah berkhayal mau mengawali maret dengan tulisan-tulisan yang cukup serius tentang beberapa event gratis yang buat aku nambah ilmu, tapi sepertinya harus di keep dulu. Masih ada yang perlu diprioritaskan, tapi untuk yang satu ini rasanya can’t wait. Momentnya ngena banget. Jadi, jangan baca lama-lama ya hihihihi :v

Baru siang tadi nemuin lagu 恋におちて feat. 小林明子 Cover by GILLE (ジル) setelah di translate hasilnya : Falling in Love Feat Akiko Kobayashi Cover by Gille (Jill) . Lagu itu, ditambah hujan sore yang khidmat, serta bebauan bulan maret yang penuh ingin di “rahasia”kan sendiri akhirnya lumer dengan sendirinya.

 

12032015 4:31 PM – Labtek 8 Ruang Residensi

Rintik hujan melantunkan nyanyian yang sama

Gemericik kecil yang selalu merindui pelangi

Angin berhembus pelan seakan berbisik tentang kedamaian

Menenangkan derasnya tetesan air hujan yang rata menyeluruh semua sudut kota

Mendung masih menggantung pekat, perlahan melepaskan penat, satu per satu melalui deretan air yang belum habis

Genap sudah di tahun ini, hidupmu menjadi 30 tahun

Umur yang matang untuk menjadi seorang pemimpin

Selantun do’a penuh harap berbisik lirih

Menyebut namamu, menyebut namanya, nama kalian

Dipersatukan dalam bahagia atas ridhoNya

Melimpahkan keberkahan kesehatan, kesuksesan, serta kebahagiaan untukmu, keluargamu, dan wanitamu

Akupun sama seperti semesta, mendukungmu dari kejauhan

Tak pernah nampak meski di depan mata

Semoga dapat kau gapai semua mimpi dan harapanmu

Sampai jumpa teman lamaku

Semoga esok kita bertemu di jannahNya, in sya’ Allah

🙂

Iklan

Puisi Lama

Puisi berserakan dalam handphoneku yg mungil, handphone lama. Anynomous exact time, tapi aku tetap ingat setiap raut suasana baris per baris kalimat yang terurai… Terimakasih waktu, telah berjalan melangkah bersamaku…

  1. Memandang langit kosong dengan keramaian ilusi mata yang berkecamuk, seperti ingin memberontak, seperti ingin menyerah. Tapi kasihmu, cintamu, semangatmu, memberitauku untuk diam, menelaah dan mencari solusi, bukan mengutuk atau menyesali apapun.
  2. Diantara kaca yang tipis ada jarak dengan ribuan kilometer, tak sama seperti yang dilihat, tak sama seperti yang dirasa, mata dan rasa punya bahasa rahasia sendiri
  3. Rasa itu keputusan hati, dan jika ia telah dilogika-kan menjadi hambar dan takkan menjadi seperti semula. biarlah waktu yang akan membuat air keruh kembali menjadi bening dengan segala rintangannya
  4. ” sesaat dia datang, pesona bagai pangeran, dan beri kau harapan, bualan cinta dan masa depan. Dan kau lupakan aku, semua usahaku, semua pagi kita”, semua menjadi asing. Lalu apa?
  5. Langit, sendumu belum hilang dengan hujan yang turun sebegitu derasnya.
  6. The ‘magic’ just gone, then everything come back like before 🙂
  7. Mendung menghias sendu diatas langit. Raga terdiam lelah, duduk merapat dengan mata terpejam disudut. Jiwanya bermimpi melanglang tanpa batas, bergerak sesuka hati. Berdialog tanpa teks, bernyanyi tanpa lirik. Dan ketika matanya terbuka, kembali ia pada nyata. Ia hanya seseorang dengan teks dan lirik ditangannya…
  8. Nada itu menggema dalam ingatanmu sepanjang hari. Dan jika kau tak ingin ia kau lupakan begitu saja, nyatakanlah dalam tulisan. Tapi bagaimana bisa kau nyatakan nada, jika kamu tak mengerti not balok?
  9. Bahasa tubuh mengisyarakatkan hal yang sama, sedang bahasa hati menyusun kalimat berlogika tiada habisnya
  10. Mendung pagi telah menggantung, sejak dari pagi buta 3 jam yang lalu. Mataku perlahan turun melihat jemari, dengan bibir yang tak bereaksi. Tak ada senyum, hanya mata yang mulai berkaca, selinang air menetes. Lalu senyum itu tersungging
  11. Seorang bapak parobaya, berpakaian lusuh dengan sekumpulan krupuk di ujung tongkatnya. Diam termangu di balik kaca tempat makan elit yang aku singgahi. Kantongku kosong, akupun tak tega melihatnya. Raut wajah yang aku tidak tau menyiratkan apa, laparkah dia? | Seorang pemuda dengan kepekaan mata menjawab pertanyaanku dengan sebungkus nasi hangat | 19.11 seorang lelaki berjalan dengan dua bakul tanaman seimbang tergantung di tongkat, tersangga di bahu. Aku menyadari sosoknya saat ia berjalan menjauh dan hilang disebuah pertigaan jalan yang ramai
  12. Seorang kakek mengelupas selotip pada besi karatan dengan tinggi selutut. Berjongkok dengan ekspresi yang tidak dapat ku terka. Bapak kenapa?
  13. Seseorang yang tidak tau letak tempat sampah, dengan baju merah, berdiri di dalam toko komputer. Lelaki jubah hitam panjang dengan batang rokok disela bibir dan topi diatas kepala. Gadis lapar yan sedang memikirkan kucing lapar dirumah. Hore wait me, i’m home. Seorang ibu anak bapak, keluarga kecil yang berada di pinggir jalan, bapaknya mengayunkan jari menghentikan angkot. Hati-hati di jalan ya
  14. ” kalimat yang selalu diulang ” adalah cara jitu untuk mengerti, paham, dan bisa menerima. Terimakasih, kali ini aku lebih tau diri 🙂
  15. Jangan bicarakan janji, tanyakan cinta, atau bahkan kepastian pada hati yang terluka. Kau hanya akan mendengar ramainya air berjatuhan dari langit. Katakan saja semuanya pada Yang Maha Memiliki Hati, bukankah itu lebih menentramkan hatimu?

Puisi : Dan Jika Senja ~

mungkin senja akan selalu sama seperti hari-hari sebelumnya
tapi disini ada sebuah ruang kosong
kosong, kosong sekali
seakan senja tiada berarti
meski aku tetap mengagumi
setiap hiasan langit yang menghiasi

Allahumma ishfi shifaa ann laa yughaadiru saqama
Ya Allah, Engkaulah yang menyembuhkan dengan penyembuhan penuh, bahkan tanpa rasa sakit apapun

Puisi : Untitled

23 Agustus 2014 08:06

didera hampa sunyi berkepanjangan tiada tepi
mulai ku cari apa yg hilang dan memudar
bukan, bukan dia yg hilang dari genggam
bukan, bukan dia yg hilang dari pandangan
tapi aku yg seperti kehilangan tangan
tapi aku yg seperti sedang berusaha berpaling

meski waktu terus berputar
tapi raga ini seakan bukan milikku sendiri
tali kekang seakan kuat mengikat kaki
tali kekang seakan kuat memenjarakan hati

Doa – Chairil Anwar

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

CayaMu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

-13 November 1943-

Aku – Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

-Maret 1943 –

Sajak Sebatang Lisong – W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi