Identitas Jari Jemari

Intuiting Introvert, kaget! Gak nyangka, hasil dari analisa 10 sidik jariku yang sudah 24 tahun ini menempel erat adalah itu. Sempet lemes, tapi dalam hati seakan bersorak gembira, tapi sesekali masih bertanya “ini serius?” dan pertanyaan itu terus menggema setelah seminggu tes sampe sekarang…

Personaliti

Perhatiannya pada gambaran umum. Mengolah informasi berdasarkan intuisi. Lebih berminat pada pemahaman imaginative. Abstrak dan teoritis. Melihat pola dan makna. Orientasi pada masa depan. Mulai dari mana saja. Menyukai kemungkinan untuk berdaya cipta. Mengandalkan inspirasi. Pola bicara beragam, menggunakan banyak kalimat perbandingan. Memiliki pikiran yang berputar namun terpola. Figuratif, menggunakan analogi dan metafora. Menggunakan bahasa untuk mengekspresikan diri sendiri. Memberi ruang, alternatif, dan tidak cepat menyimpulkan. Tertarik pada pekerjaan yang melibatkan kreatifitas. Menyukai cerita fiksi. Berbicara hanya hal-hal besar dan strategis. Memiliki visi ke depan. Cenderung untuk menyelesaikan kalimat orang lain. Tampak intelek atau berkelas

I (Intuiting) itu ibarat kayu. Kayu pohon tumbuh dan bergerak vertikal. Kayu pohon tumbuh, hidup, dan menghasilkan buah. Kayu seperti tidak pernah berhenti tumbuh ingin mencapai langit. Dan juga kayu tumbuhan indah dan sedap dipandang mata. Jika orang ingin mencari lambang kreativitas, maka simbol yang digunakan adalah pensil kayu, bukan ballpoint. Demikian juga benda-benda kreatif bahkan rumah kreatif dibuat dari kayu. Kayu memiliki kekuatan sekaligus fleksibilitas. Kayu menghadirkan kreatifitas. Gerakan kayu yang cenderung bergerak vertikal ke atas seakan mencapai langit, ibarat penuh optimisme sedang melompat mengejar masa depan. Kayu menciptakan kreativitas. Kreativitas lambang kualitas ilmu. Orang I : optimis, kreatif, berkelas, kuat, fleksibel seperti kayu, memiliki keindahan seperti jari manis. Jari manis adalah bagian jari yang paling susah digerakkan, namun bentuknya indah, tempat meletakkan cincin. Orang I, kemistrinya kepada ilmu, kreativitas, gagasan, solusi yang diwakili dengan unsur ‘kata’.

Unsur Alam Semesta : Kayu

Simbol jari : Jari manis

Unsur Kepemilikan : Kata

Habitat Alam : Pohon besar-besar, suhu dingin

Habitat Sosial : Masyarakat Ekslusif

Habitat Industri : Industri Lifestyle

Tantangan menghidupkan standar : Perfeksionis yang ke-pede-an

Jenis penyakit fisik dan mental : paru-paru/udara, intisari/dasar lingkungan

Profil Ii (Intuiting Introvert):

Kepribadian yang selalu mempersepsi keadaan secara positif. Meskipun mereka positivis anehnya mereka seperti memiliki mesin ‘time tunnel’ yang seolah-olah kemanapun mereka mau pergi tinggal pencet tombol, sesuatu yang berlawanan dengan positivismenya mereka. Memiliki privasi yang kuat, ‘tidak ember’, mampu menyimpan rahasia pribadinya rapat-rapat namun mereka juga menyenangkan dijadikan sebagai mitra bisnis tanpa harus masuk ke wilayah privasi. Keyakinannya yang kuat terhadap dirinya kerapkali mendudukkan dirinya sebagai pahlawan bagi sekitarnya. Keyakinannya sering berlebihan meskipun sebenarnya mereka punya kemampuan untuk sadar diri terutama ketika berinteraksi dengan orang lain. Jika diibaratkan kendaraan, mereka adalah jenis kendaraan tanpa rem. Hantam terus. Melaju terus. Hanya ketika sudah mentok tidak berhasil mencapai tujuannya mereka langsung jatuh down. Untuk memulihkan dari down-nya ini tidak mudah, karena mereka baru menabrakkan kendaraannya tanpa rem. Letak kehebatannya adalah pada kemampuannya membuat konsep dan begitu perfeksionis ketika mereka menjalani konsepnya. Kalau perlu mereka bersedia untuk turun tangan meskipun mereka konseptornya. Jenis kepribadian yang super keras kepala, meskipun demikian mereka terbuka untuk berbeda pendapat. Mereka sangat romantis, lucunya mereka juga ‘anak mami’.

Tokoh Ii : Luis Figo, Rano Karno, Carissa Putri, Marissa Haque, Widyawati, Sri Mulyani, Riri Riza, Taylor Swift, Julia Robert, Leonardo DiCaprio.

(ngopi dari : https://utie89.wordpress.com/2012/10/25/tes-stifin/)

Setelah ini, apa yang akan terjadi? Ahh rasanya aku ingin segera berlari melalui tahun demi tahun, dan mendapati diriku 10 tahun lagi… seperti apakah? Semoga lebih baik. Aamiin.

Tangan yang Gemetar

ramai orang berteriak di telinga : “kamu dosa” “kamu salah” “kamu naif”. semua itu tentu saja membuatku gemetar. tapi tanganku tetap merangkai kerikil demi kerikil. jauh di lubuk hati, tersemat : “selama apa yg dilakukan tidak menyakiti orang lain, menyusahkan orang lain, merugikan orang lain, membuat orang lain menjadi sedih atau tercerai berai, tangan ini akan tetap menari meski gemetar” merangkai kerikil-kerikil untuk sekedar menjadi pijakan pengunjung di pinggir taman, berharap dapat membuat kakinya menjadi sedikit sehat, atau membuatnya tersenyum (jika itu mungkin).

dan jika memang apa yg mereka katakan adalah benar, hanya Allah Maha Mengetahui, tiada lelah bagi pendosa sepertiku untuk bersimpuh meminta ampun dan diberi petunjuk jalan yang benar, aamiin .__.

Pelupa

terkadang menjadi pelupa itu terasa lebih baik daripada pendendam, namun suasana itu seakan kembali menyeruak tanpa di undang, desah nafas kecewa, mata memburu tajam, dan kalimat-kalimat yg langsung terurai di udara melesat seperti ribuan peluru yg membuatku patah hati seketika. merobohkan benteng pertahanan untuk tetap berpikir bahwa semuanya masih baik-baik saja. ahh aku ingin sekali lupa, tapi bahkan itu seperti terulang kembali hanya dengan satu kata yg ia tulis, “payah”. *mendung ketiga pagi hari

Catatan Hati Anak Kos : Sabtu Minggu Ciamik!

Alhamdulillahhh Allah menciptakan hari Sabtu dan Minggu~ apalagi kalo sabtu-minggunya di kosan, hehehhhe… ya meskipun ada tugas yg berentet, dan sepaket kerjaan buat hari-hari kedepan. Tapi it’s ok lah… take-a-time for my self~ enjoying my life~ uhuuuu… Ahhh tadinya aku mau post tentang resep memasak, eksperimen dapur di hari libur… tapiii yaa apalah daya, eksperimennya belum sempurna, hehehe rasanya masih mmmm, nda bikin sakit perut apalagi beracun.. masih aman kok tapi kurang pas di lidah… mungkin kurang cinta, halah -_- . Maklumlah, masih single jadi belum mahir… memang harus banyak2 belajar dan bertanya pada yg ahli :3 mengingat bahwa prospek setiap wanita nanti akan menjadi seorang ibu, yg harus bisa masak-ciamik biar nanti suami dan anak-anaknya selalu kangen rumah *ceilehh Tapi meskipun aku nggak jadi posting resep memasak, setidaknya lihatlah hasil eksperimen sabtu mingguku… inilah diaaa… eng ing engg…

masakan

Harganya murah meriah kok, emang tergantung bahannya sih… yg sebelah kiri, itu masakan hari sabtu, belanja sekitar 12 ribu. Sedangkan masakan hari minggu, belanja sekitar 10 ribu padahal ikan, beberapa bahan emang udah kebeli di hari sabtu. Jangan tanya itu ikan apa, karena aku lupa tanya sama mamangnya. Btw, itu adalah masakan ikan segarku yg pertama. Lanjut aktifitas selanjutnya yg nggak kalah asik nih selain masak, melukisssss!!! Hehehehe… inilah diaaaa… lukisan-all Abstrak semua, hahahahahahhaa.. gak usah nanya artinya apaan… silahkan artikan sesuai dengan kacamata sendiri :p karena emang aku nglukis ya nglukis aja rata-rata nggak mikir mau ngasih makna apaan hehehehe. Semua gambar diatas, cuma pake 3 warna dasar merah, biru tua, dan kuning. Karena emang cuma 3 warna cat air itu yg aku punya, hehehe. Lanjut ke aktifitas ke tiga, yg brasa surga dunia banget adalahhh baca buku sambil makan mangga dan minum susu-stobeli. Beuuuhhhh, nikmat banget dahh. Kebetulan pas lagi baca buku yg belinya udah bulan juni kemaren, baru kebaca fokus seminggu kemarin dan habis hari ini. Yeay! Foto-0050 Selanjutnya, masih surga-dunia… tidur siang dan akhirnya menikmati sore dengan menulis ini… hmmm… sabtu-minggu ini ciammiikk dahh. Oh iya, dari pagi sampe siang tadi aku ditemenin sama cingmil (kucing hamil) terseksi, kucingku yg belum sempat aku kenalkan disini… namanya Hore Rosalinda Aiamore hehehhee… panggil saja dia Hore… kapan-kapan aku ceritakan tentang dia. cingmil Dan menjelang malam… bersantai dengan film anak negeri hehehe biar tambah semangat~ Alhamdulillah, terimakasih ya Allah untuk hari ini 🙂 That’s so polite weekend without pressure-job!

Dalam Bias Cermin

semua bermula saat ia berhenti menoreh tinta diatas kertas, hambar, pucat, tak berwarna… kembali ia berandai pada waktu yg tak bisa dibeli. kehilangan tangan, terjerat jala-jala ikan… kau terkapar, terkapar hampir mati. jika sudah begitu, apakah kau hanya akan diam saja dan melihat dalam bias cermin?

apakah kau hanya akan melihat ketika dirimu sendiri menjelang kematian? kau tau, tau dengan jelas bahwa racun telah digenggam, apa kau juga akan menelannya?

kemana, kemana dirimu yg ingin hidup seribu tahun lagi? bukankah sejak awal kita bersama menyadari bahwa kita tidak hanya segumpal daging berjalan diatas bumi? kemana? kemana tanganmu pergi dan menghilang? kemana? kemana kakimu berjalan? ke arah mana lagi kau akan berlari? atau kau hanya akan berdiri mematung disana? bersama jala-jala ikan yang belum selesai engkau sisihkan atau bahkan kau rajut dengan kakimu sendiri?

dalam bias cermin semua tertera, meski kau masih melihat kedua tangan yang masih utuh, kaki tanpa jala-jala ikan, atau bahkan genggaman racun. tapi kau sendiri tau, kita masih punya hidup… kita masih punya harapan… jangan mati, karena aku adalah kamu… raga dan roh yang dipinjam, titipan sang Ilahi, yang Punya Segalanya~ Allah

PR Tambahan

4:08 AM 6/18/2014

Menjelang subuh, bersama rentetan tab hasil searching tugas yang nanti hari jum’at sudah harus dikumpulkan. Bersama lagu “Adfaita” dari suara nan merdu mas Mishary Rashid, hehehehe. Banyak sekali yang ingin aku lakukan, mengerjakan tugas kuliah, prepare buat kegiatan nanti, nyuci baju, baca buku yg udah lama banget nongkrong di laptop (sayaaang banget ._. maafkan aku buku-baik) yaa setidaknya hanya 1 bab saja, selain itu juga searching foto dari Jogja kemarin (entah kenapa susah sekali aku ingat dimana terakhir aku pindahkan foto-foto itu, hiufff) dan juga ini… ngeblog.

Yaaa.. tadinya sih aku mau cerita tentang Jogja. Tapi sepertinya aku lupa bagaimana harus bersikap karena selain foto belum ketemu kalimat-kalimat yg mau aku sampaikan juga masih belum utuh (dasar sukeee, nakal! -___-)

Dan akhirnya… aku putuskan untuk melakukan listing PR buku yang harus dihabiskan…. ya minimal 1 hari 1 bab… semangat semangat semangat!

yakkk inilah dia buku-buku yang belum habis ku baca atau belum terbaca sama sekali :3 mari kita review sekilas… mulai dari yg paling atas sebelah kiri ya…

gabung

“Tuhan Maaf Kami Sedang Sibuk” karya Ahmad Rifa’i Rif’an, baru baca 1 bab selanjutnya di pinjem temen padahal aku belum selesai hahaha… ini adalah buku pertama yg ku beli setelah sekian lama tidak membeli buku, 19 Januari 2014 itupun belinya pas di acara bedah buku UPI Bandung… sudah 5 bulan yg lalu, dan masih sekitar 20 halaman wkwkwkwkw… benar-benar harus jadi PR!

“Dunia Sophie” karya Jostein Gaarder yg sudah diterjemahkan, buku ini sudah sampai di halaman 326 tepat di foto Isaac Newton, mungkin kemarin aku sedang menikmati geraian gaya rambut beliau yg terbilang feminim di jaman sekarang ehehehehe… aku beli ini tgl 14 Maret 2014 lebih ekresif ya daripada buku sebelumnya… salah satu faktornya karena buku ini termasuk incaran buku yg sudah lama sekali sejak kuliah D4 kemarin…

“The Excellenct Parenting Mendidik Anak ala Rasul” dari Qudsi Media karya Indra dan Vindhy, belinya sekitar pas kegiatan sama Happy Play & Fimelya di Kalibata City, ya bukan di acaranya sih, tapi di toko buku Kalibata Citynya, tgl 24 Mei 2014 hehehe… buku belum kebaca sama sekaliii, cuman sekilas-sekilas aja… ini penting, penting sekali buatku… ya meski aku belum memiliki calon suami, apalagi calon anak… tapi setidaknya aku harus belajar sebagai bekal yg terbaik untuk mereka 😀

“Pintar Tajwid” ini belinya barengan sama buku yg diatas, yg beli di Kalibata City. Baru kebaca sekitar 2 chapter, PARAH! buku ini memang buat anak-anak… ya pengetahuanku tentang agama memang kurang, mungkin ada sih fondasinya tapi suka lupa-lupa ingat… dan terutama untuk yg satu ini… interaksi terhadap kitabku, Al-Qur’an yg sudah alhamdulillah lumayan sering dari bulan-bulan sebelumnya, sangat perlu dengan ilmu ini… wajib dan harus dibaca!!!

“Aku Beriman Maka Aku Bertanya” karya Jefrey Lang, judul yg menggelitik sangat membuatku ingin membaca… realisasinya baru kata pengantar aja yg terbaca… -___- padahal buku ini sudah lama sekali aku punya, sejak si Bapak-Besar bilang mahasiswa-mahasiswanya setiap bulan harus selesai baca 1 novel *ya meski realisasinya dibilang nol besar, karena nggak ada yg implementasi* ya wajar sih, nda semua suka baca, nda semua punya waktu baca, butuh proses memang untuk itu semua… tapi salut sekali ketika Bapak-Besar menghimbau kami tentang hal ini, rasanya dalam hati tuh ada yg tersulut… ada yg hangat, secuil titik api yg lembut menyala dalam gelap *halah apasih* hahahaha… intinya gitu deh, tapi yaaaa… meski begitu saya sendiri belum komitmen untuk menjalankan perintah Bapak-Besar, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya… adaptasi saya buat Bapak-Besar kemungkinan besar di nilai sangat lamban, saya terima itu… ada salah seorang Yang-Dulu-Jadi-Ketua-Kegiatan “Nggak papa lama, karena memang kamu melakukan proses…” Nanti kalau prosesnya sudah sering, pasti bisa lebih cepat… jadi nda ada salahnya toh?

“Digital Fortress (Benteng Digital)” karya Dan Brown yg sudah diterjemahkan, katanya sih penulis legendaris… buku ini cukup lama juga aku punya, hampir sama kayak yg disebelah inilah… tapi aku baru milih bukunya pagi ini, hahahaha… buku yg jadi PR, sebelumnya mah aku mau tampilan seluruh buku digital yg belum aku pilih… kenapa milih lagi? biar genep di kotakannya hehehehehe…

Okelah, demikian PR saya kedepan… semoga saya bisa istiqomah 1 hari 1 bab, entah nanti mulai dari buku yg mana, atau bahkan kemungkinan buku berselang seling dari buku satu ke buku lainnya karena akses yg terpaksa harus menyesuaikan keadaan. Semangat Berkarya, Selamat Berkreasi 🙂

Cipratan Hujan

Belakangan hari hujan memang turun, sering, lebih sering, sangat sering, agak sering, tapi hari ini menjadi mendung. Sebenarnya artikel ini bukan tentang main hujan-hujanan, tapi maknanya tidak jauh dari makna sebenarnya. Ya, kalau dilihat-lihat dari postingan blog ini sebelumnya, memang mayoritas adalah tugas, selebihnya adalah beberapa chapter buku yang terpisah dan sampai saat ini belum habis terbaca *dontaskme,idontknowwhyhow. Mungkin ada faktor kesengajaan dari penulis (yaitu aku sendiri, hallah -_-) untuk sembunyi dibalik ranting-ranting bambu, hanya saja. Sejak di suatu siang yang lumayan cerah, dalam perjalanan menuju tempat yang sudah setahun yang lalu kaki ini berpijak, ada sebuah udara berbeda yang kehirup di hidung (apasih, tapi that’s true loh). Ya bukan udara beraroma lho yaa, hanya udara netral seperti biasa tapi bisa membuat syaraf otak ini seperti terkena cipratan hujan (inilahmaksud-judulartikelini!). Apakah itu? Kesadaran!

Sudah terasa sangat lama sekali aku tidak pernah menulis, menggambar, mewarnai, dan melakukan hal-hal yang disukai. Setelah di flash back, yang dilakukan setahun (agak lebih mungkin) kemarin adalah just do, without feeling. Ya, cuman jalanin hidup aja. Slow with the flow like jellow, tapi sayangnya buat hidupku sepertinya kurang [nggeh]. Kehilangan diri sendiri, kehilangan kesadaran (bukan pingsan), ini memang aneh. Ada sebuah percakapan film yang bilang begini, “… dan ketika aku bermimpi dengan mata terbuka …”. Kalimat itu cukup lama untuk bisa dicerna, intinya adalah apa yang dilihat tidak benar-benar bisa dipahami, seperti ilusi, seperti khayalan, seperti mimpi. Apa yang di tangan seperti tidak benar-benar disentuh, apa yang di genggam seperti tidak memiliki sebuah arti apa-apa. Padahal nyata adalah apa yang bisa disentuh dan digenggam

Bagaimana mungkin kamu tidak hidup dalam mimpi jika semua orang disekitarmu mulai meramalkan apa yang akan terjadi padamu. Mereka sangat optimis dengan terus meneriakkan kalimat-kalimat ghaib tentangmu, mimpi yang pasti akan tercapai, bahkan tersadar bahwa semua yang mereka katakan adalah harapan besar yang harus dipikul. Beberapa motivator mengatakan yang intinya adalah, “ketika semua orang percaya padamu, apakah masih ada alasan bagimu untuk tidak percaya pada dirimu sendiri?” kalimat ini sangat melekat sepanjang hari-hariku di tahun lalu. Dan apa yang aku putuskan? Aku menjalaninya, hanya itu. Aku mengikuti arus, aku melihat sekitar, aku diam, aku pasif, aku beradaptasi, aku meraba tembok, lantai, dan mungkin apa yang ada diatas kepalaku. Terlalu lama? hingga menghabiskan waktu setahun, biar saja! Ada yang bilang padaku, “Nggak papa lama, karena itu emang proses!”

Sebelum setahun lalu adalah waktu yang sangat disyukuri sepanjang hidupku, air mata bangga wanita yang paling aku cintai, ibuku, berlinang. Hanya itulah alasanku, selama setahun yang lalu tidak memberontak untuk berdiri dengan tanpa rasa. Rasa yang baru saat ini tersadar bahwa inilah saatnya aku kembali menulis, menggambar, mewarnai, dan melakukan apapun. Telat? siapa bilang? Hhhh, berisik.

Dan yang pasti, ini tidak akan pernah terjadi tanpa kehendakNya, Tuhanku satu, Allah subhanallah wa ta’ala… Dia-lah tempatku kembali, setelah sekian lama jiwa mencari makna, memang hanya Dia-lah penerangku. Terimakasih untuk sahabat-sahabatku yang juga ikut serta membantuku berlari mengejar cintaNya, ridhoNya, kasihNya, dan damaiNya… Semoga jalinan ukhuwah kita akan selalu terjaga, dan semoga Allah, Tuhan kita, akan selalu memberikan petunjuk dan bimbingan pada kita 🙂

Akhir kata, ku ulas senyuman ikhlas dibalik layar dan deretan keyboard, semoga tulisan ini bermanfaat. Salam, Sukeipah.