Mari Kita Bekerjasama

Surat kedua untukmu, kamu yang selalu dinanti.

Assalammu’alaikum, calon suamiku.

Siapapun kamu, apakah orang yang disekitar ataupun bukan, apakah orang yang telah lama dikenal atau beberapa waktu, apakah orang yang selalu ada dalam do’aku ataukah bukan, siapapun kamu, aku yakin hanya ada satu dari milyaran manusia yang diciptakan untuk kusanding karena cintaNya. Dan kapanpun kamu datang, datanglah, jangan pernah ragu untuk menyempurnakan agama bersamaku… apapun yang terjadi, jika Allah pilihkan kamu untukku, aku akan menerimamu, apapun yang terjadi di hadapan, kita akan hadapi bersama, aku akan selalu menyandingmu, suka duka, sakit sehat, gelap terang. Aku menantimu, aku memperbaiki diri, dan memantaskan diri.

Aku punya cita-cita yang besar, aku hidup dalam sebuah perjalanan untuk mewujudkannya. Begitupun denganmu, aku yakin kamu punya hal yang sama. Mari kita wujudkan bersama, aku mendukungmu, kamupun mendukungku. Jangan takut  apabila nanti salah satu diantara kita bersinar terlebih dahulu, atau sebaliknya. Semoga kita selalu diingatkan, bahwa kita adalah dua yang menjadi satu untuk saling mendukung dan memperbaiki diri. Masing-masing dari kita adalah suporter nomer satu untuk mewujudkan cita-cita. Dan yang paling penting, kita adalah dua yang menjadi satu karena keridhaanNya. Membacanya kembali membuatku tertawa sendiri, ini terasa terlalu romantis sedangkan kamu masih dalam imaji, hahahaha. Karakterku yang melankolis, semoga kamu tidak 😉

Dan sebelum ku jelaskan lebih banyak, sempatkan membaca dua artikel ini, artikel yang memicu surat kedua ini tertulis untukmu, hehehehehe. Artikel satu (http://www.hipwee.com/motivasi/11-alasan-kenapa-kuliah-di-luar-negeri-adalah-cita-cita-yang-harus-kamu-pelihara/) dan artikel satunya lagi (http://www.hipwee.com/daripembaca/jangan-takut-menikahiku-apapun-jalan-cerita-pernikahan-kita-aku-akan-bersyukur-jadi-pendamping-hidupmu/) Baca lebih lanjut

Iklan

Bulan Mei 2008

Tepat 6 tahun yang lalu, ya di tanggal ini… angka ke 22 di bulan Mei. Masih ku ingat hari yang cerah, hiruk pikuk stasiun Pasar Turi Kota Surabaya, jaket oblong, celana levis ¾, sepatu cats, rambut pendek, wajah yang hanya dibilas setelah semalaman tidur di kereta, bukan hanya itu, satu koper besar dan satu tas gunung. Transit! Ya cuma itu yang kulakukan di kota Surabaya waktu itu. Tapi hari itu, tanggal itu, waktu itu, tempat itu, suasana itu, ternyata aku tidak hanya berlalu dan lupa.

Nuansa masalalu sangat kental dalam ingatan, kenangan, deretan kejadian dan tempat, ekspresi dan tawa lepas terumbar dengan samar… Ya, di tanggal ini. Tanggal yang tidak pernah aku lupakan disetiap tahunnya, tanggal yang mungkin hanya aku habiskan untuk melakukan aktifitas seperti biasa, tanpa sesuatu yang istimewa. Tanggal yang memang sangat berkaitan dengan masalalu, sangat! Disanalah pertama kalinya aku bertemu orang itu, orang yang ku sebut cinta pertama, yang aku kenal sejak 1 tahun sebelum aku bertemu dengannya.

Lelaki sederhana yang memang telah direncanakan Tuhan untuk bertemu denganku, lelaki baik, lelaki ramah, lelaki yang tidak aku ingat berapa umurnya, yang aku tahu dia lahir di tanggal 27 September dengan rambut keriting. Lelaki yang berbeda agama denganku, namun bisa membuatku berkomitmen untuk menggenggam erat agamaku. Pembelajaran hidup yang selalu aku banggakan, 🙂

Terimakasih Kak, telah mengajariku tanpa menjelaskan. Terimakasih, terimakasih, terimakasih. Dimanapun kau berada kini, semoga engkau bahagia dan baik-baik saja, yang paling penting, semoga kau senantiasa berada dalam kasih Sang Maha Pencipta.

Terimakasih ya Tuhanku satu, Allah, atas ridhoMu mempertemukanku dengan orang itu, mendapatkan petunjuk hikmah dan pembelajaran melaluinya, hanya Engkaulah yang paling mengerti tentang yang baik dan benar, dan ijinkanlah aku selalu berdo’a padaMu meminta kehidupan yang baik untuknya, petunjuk hidup yang baik untuknya.

Hanya Engkaulah yang memberi kehidupan yang ada di dunia maupun setelahnya, kepada seluruh makhluk hidup di alam raya ini, baik mereka yang Engkau kasihi ataupun tidak, yang Engkau beri petunjuk ataupun tidak.

Dan semoga Engkau mengijinkan aku menjadi hambaMu hingga akhir hayatku, senantiasa berada dalam kasih dan petunjukMu , dan ku mohon padaMu, berikanlah kebaikan kepada seluruh orang yang telah menuntunku untuk-senantiasa-berada-dalam kesetiaanku padaMu, baik kaum muslimin maupun orang kafir-yg-tidak-memusuhiku-karena-agamaku.