Janlast

Hello 2016! Tidak ada kata terlambat untuk menyapamu, deretan hari dengan misterinya sendiri-sendiri. Ini memang bukan tanggal 1, bukan lagi momen dimana orang-orang menyuarakan resolusinya dengan mata binar dan deru nafas menggebu, semua orang dibumi ini seakan sudah memulai melakukannya. Aku? masih duduk termangu dengan deretan daftar semu yang belum bisa aku coret atau aku kerjakan. Sebuah PR Desember 2015 dan mungkin hingga detik ini. Hela nafas tak berarti apa-apa, dijalani saja dengan ikhlas, Allah lebih tau, Allah melindungi…

Menjadi tidak peduli akan lebih mudah, tapi aturan-etika lebih agung dari egoisme. Membolak-balik kacamata untuk memaknai sesuatu yg agar lebih bulat dan utuh. Tapi semakin dilihat, yg nampak malah bentuk-bentuk tak beraturan tanpa tujuan, fondasi rapuh dibalut dengan wallpaper tembok bergambar besi baja. Kecewa menyeruak disetiap sudut, masuk ke hidung dan membikin batuk pilek. Krisis kepercayaan mulai melanda, meskipun mereka mengatakan percaya adalah investasi. Tidak percaya pada pemimpin adalah sebuah aib.

Seketika aku dikuliti rasa cemburu pada sosok gadis enerjik dan sosok pemuda kreatif yg menghambakan diri dalam konstribusi masyarakat/ummat dengan dakwah sebagai porosnya — dari Allah, demi Allah, untuk Allah. Poros seluruh perjalanan mereka diatas bumi untuk memaknai sepotong daging yg menempel ditulang. Nafas mereka. Tulisan mereka. Gemeretak menggerus lapis demi lapis dinding berkarat yang sudah lama tak terurus. Aku lupa dan tak ingin ingat sejak kapan keterasingan ini menjadi biasa.

Akhir kalimat, dalam tarian jemari akhir januari, mari bertanya… semua ini bersumber darimana? apa tujuan dari semua ini? apa yang akan terjadi setelah semua ini selesai? dear 2016, let’s through the day until tommorow ~ someday we’ll wait for.

Berhenti, Sekarang!

Suasana kampus sedang tenang. Beberapa mahasiswa sedang berkumpul disalah satu sudut. Setidaknya sudut yang bisa aku lihat dengan kedua mata. Dua minggu lagi lebaran. Sudah menjadi hal yang biasa jika kampus ini akan semakin beranjak sepi karena penghuninya pulang kampung. Aku? Tidak. Kali ini aku jaga kota rantau. Seperti hari ini, menyimak pepohonan kampus yang ramai disabanin cuitan burung-burung yang lagi nangkring, atau wereng, dan atau binatang-binatang lain yang setia bersama alam.
Salah satu tanaman yang paling aku sukai di kampusku adalah bougenville ungu, menghias dimuka-muka. Ahhh sudah lama aku banyak alasan untuk menulis, sepertinya aku harus banyak membaca setelah ini agar aku bisa menulis. Ya, aku tidak pernah serius dengan diriku sendiri. Aku lebih banyak mengalir dengan fokus-fokus beralih yang semakin lama membuat mataku lelah. Aku mau berhenti, sekarang! Berhenti dari fokus yang senantiasa mendua. Mengepang geraian ular-ular medusa diatas kepala menjadi satu kesatuan! Aku harus tahan!
Ah jangan tanya kenapa aku tiba-tiba begini, do’akan saja aku terus memperbaiki diri. Selama membawa kebaikan dan perubahan kearah yang lebih baik, tak usah bertanya asalnya dari mana. Tanyalah bagaimana prosesnya! Karena aku harus berproses, bukan lagi banyak bertanya dan mencerna.